Satu minggu berlalu sejak Hussein menjejakkan kakinya di rumah megah Ustadz Hambali dan resmi diangkat menjadi Asisten Dosen. Bagi dunia luar, Hussein adalah wujud nyata dari pemuda akhir zaman yang dirindukan surga. Rutinitasnya adalah sebuah kanvas kesalehan yang tak bercela.
Di pagi hari, ia menghadiri kelas Magister-nya dengan otak yang brilian. Di sela-sela waktu, ia membalas email dari sang dosen pembimbing, mengerjakan draf penelitian akademis yang rumit. Menjelang sore, ia berdiri di mimbar sebagai Ketua Organisasi Kajian Dakwah Islami, dan di malam hari, ia masih menyempatkan diri menulis draf buku bertemakan Cinta dan Batasan Halal dalam Islam. Sebuah ironi yang kelak akan menjadi bumerang bagi jiwanya sendiri.
Jumat siang itu, layar laptop Hussein menyala, menampilkan sebuah email baru dari Ustadz Hambali.
“Assalamualaikum, Hussein. Akhir pekan ini, jika tidak ada uzur, saya memintamu untuk menginap di rumah. Kita harus mengebut penyelesaian Artikel Ilmiah yang dua minggu lagi akan disubmit ke Konferensi Internasional di Kairo, Mesir. Kabari saya.”
Sebuah senyum miring, sangat tipis dan tak kasat mata, terukir di sudut bibir Hussein. Undangan untuk masuk ke dalam sangkar emas itu kembali datang, dan kali ini, ia akan menghabiskan malam di sana. Jari-jari besarnya dengan cepat mengetik balasan persetujuan.
Saat ini, Hussein sedang duduk di ruang kantor sekretariat organisasi dakwah fakultas. Ruangan itu cukup sibuk. Di seberang mejanya, Fattah dan Ilman—dua sahabat karibnya—tengah serius berdiskusi mencentang daftar peralatan untuk acara Kajian Dakwah Keliling Fakultas selama dua minggu ke depan.
Di sudut lain, para akhwat pengurus organisasi juga sibuk dengan tugas masing-masing. Rani, gadis cantik berhijab syar'i yang diam-diam memuja Hussein, tampak telaten menyortir surat menyurat dan form pendaftaran peserta. Di sebelahnya ada Manda yang sibuk menatap layar tablet, mendesain pamflet untuk media sosial. Sementara Raya tengah menelepon beberapa katering, menyesuaikan anggaran snack yang didanai fakultas.
"Sepertinya desain pamfletnya butuh warna yang lebih teduh, Manda. Jangan terlalu mencolok," tegur Hussein lembut dari balik mejanya, suaranya yang bariton menggetarkan udara di ruangan itu.
Manda tersentak pelan, pipinya sedikit merona. "E-eh, iya, Kak Hussein. Nanti saya ubah tone warnanya."
Fattah, yang diam-diam memacari Manda di belakang aturan ketat organisasi, hanya bisa melirik sedikit cemburu, namun ia menyembunyikannya dengan dehaman. "Untuk sound system, insyaallah aman, Sein. Ilman sudah hubungi pihak perlengkapan fakultas."
"Alhamdulillah. Pastikan tidak ada yang terlewat," balas Hussein.
Tawa kecil dan senda gurau sesekali mewarnai ruangan itu. Mereka terlihat seperti pemuda-pemudi yang mendedikasikan masa mudanya untuk agama. Namun, di balik kerudung panjang dan kemeja rapi itu, kemunafikan sebenarnya bersembunyi. Fattah dan Manda, Ilman dan Raya, mereka semua diam-diam melanggar batas yang mereka ceramahkan sendiri. Dan Hussein, sang ketua yang paling dihormati, justru menyimpan rencana maksiat yang jauh lebih gelap dan menghancurkan dari mereka semua.
Pukul empat sore, Hussein merapikan laptopnya. "Saya pamit duluan, Ikhwan, Akhwat. Ustadz Hambali memanggil saya ke rumahnya untuk menyelesaikan jurnal konferensi."
"Hati-hati di jalan, Kak Hussein," ucap Rani cepat, matanya berbinar menatap punggung tegap sang ketua yang melangkah keluar.
Suara deru mesin Kawasaki Ninja 250 RR berwarna hitam membelah jalanan Ibu Kota. Hussein sempat mampir ke tempat kosnya untuk mengambil beberapa potong baju ganti kasual, sebelum akhirnya melaju menuju kompleks perumahan elite di selatan Jakarta.
Sesampainya di depan gerbang megah keluarga Ustadz Hambali, Hussein mematikan mesin motornya. Bel ditekan, dan tak lama, pintu utama rumah terbuka.
Namun, yang menyambutnya bukanlah sang Ustadz atau Ummi Reina, melainkan Amira. Putri bungsu berusia enam belas tahun itu keluar dengan penampilan kasual khas anak SMA: sweater oversized berwarna abu-abu, celana jeans longgar, dan hijab pashmina yang dililit santai. Wajahnya sangat manis, mewarisi fitur ibunya namun dengan sorot mata yang lebih berani dan usil.
"Assalamualaikum. Cari Abi ya, Kak?" sapa Amira sambil bersandar di kusen pintu, menatap mahasiswa ayahnya itu dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.
"Waalaikumsalam. Betul, Dek. Ustadz Hambali ada?" Hussein menjawab sopan, menundukkan pandangannya, memainkan peran pemuda alim dengan sempurna.
"Abi sama Ummi lagi pergi ke acara kajian di kompleks perumahan sebelah, Kak. Lumayan jauh, mungkin agak malam pulangnya. Tapi Abi udah pesan kok kalau Asdosnya mau datang. Kak Hussein kan namanya?" Amira tersenyum, mempersilakan. "Masuk aja, Kak, tunggu di teras dalam."
"Terima kasih. Saya tunggu di teras luar saja, tidak apa-apa." Hussein tahu batasan. Berada di dalam rumah hanya berdua dengan gadis di bawah umur adalah hal yang akan mencoreng topeng kesuciannya.
Amira mengedikkan bahu. "Ya udah kalau gitu. Aku temenin ngobrol dari pintu aja ya, bosen di dalam."
Hussein hanya mengangguk pelan. Amira adalah gadis yang supel. Selama dua puluh lima menit, gadis itu terus berceloteh tentang sekolahnya, sementara Hussein menanggapi dengan senyum tipis dan jawaban bijak. Di dalam kepalanya, Hussein memetakan karakter Amira. Gadis ini terlalu peka dan banyak bicara; kelak ia harus berhati-hati jika ingin melancarkan aksinya di rumah ini.
Tepat saat matahari mulai memerah di ufuk barat, sebuah taksi online berhenti di depan gerbang. Hafizah turun membawa sebuah kotak kardus kecil. Mahasiswi kedokteran itu mengenakan gamis dusty pink dan hijab rapi. Wajahnya yang kelelahan sehabis praktikum mendadak bersemu merah terang saat melihat siapa yang duduk di teras rumahnya bersama sang adik.
"Assalamualaikum," sapa Hafizah dengan suara lembut yang sedikit gemetar.
"Waalaikumsalam, Dek Hafizah," jawab Hussein berdiri menyambutnya dengan senyum yang sengaja ia buat sedikit lebih hangat.
"Kak Hafizah lama banget sih beli donatnya! Katanya Ummi nyuruh cepet karena ada Kak Hussein," gerutu Amira, mengambil alih kotak dari tangan kakaknya. "Kak Hussein, ayo dimakan. Aku ke kamar dulu ya, mau ngerjain PR." Amira pun berlalu masuk ke dalam rumah.
Tinggallah Hussein dan Hafizah di teras yang temaram. Jantung Hafizah berdegup kencang bak genderang perang. Bisa berduaan dengan pemuda pujaan kampusnya di rumah sendiri adalah mimpi yang menjadi kenyataan.
"Silakan, Kak Hussein," Hafizah menyodorkan kotak donat itu tanpa berani menatap mata Hussein.
"Terima kasih. Kuliahnya hari ini berat?" pancing Hussein dengan nada perhatian yang sangat halus.
"A-alhamdulillah, Kak. Cuma tadi ada praktikum anatomi, jadi agak melelahkan," jawab Hafizah tersipu.
"Calon dokter memang harus kuat. Jangan lupa jaga kesehatan," bisik Hussein. Kalimat sederhana itu sukses membuat perut Hafizah seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan. Gadis polos itu sama sekali tidak sadar bahwa perhatian itu adalah jaring tipis yang perlahan mengurung hatinya.
Tak lama, Hussein dipersilakan masuk ke ruang kerja Ustadz Hambali yang terletak di lantai satu, tak jauh dari ruang keluarga. Hussein mulai membuka laptopnya, membaca literatur berbahasa Arab dan Inggris, lalu tenggelam dalam pekerjaannya hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam.
Suara mesin mobil yang memasuki garasi memecah fokus Hussein. Ia baru saja selesai menunaikan salat Isya di ruang kerja tersebut ketika mendengar pintu depan terbuka.
"Assalamualaikum," suara berat Ustadz Hambali terdengar, disusul oleh suara merdu yang selalu berhasil membuat darah Hussein berdesir.
"Hussein sudah di dalam, Nak?" tanya Ummi Reina pada Hafizah. "Sudah, Ummi. Sedang di ruang kerja Abi."
Hussein keluar dari ruangan, menyambut kedatangan tuan rumah. Ia menyalami Ustadz Hambali dengan takzim, lalu menundukkan pandangan saat Ummi Reina tersenyum ramah ke arahnya. Wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu mengenakan abaya sutra hitam dengan bordir emas. Meski tertutup rapat, aura keibuan dan kematangan sensualnya memancar kuat, mengintimidasi akal sehat Hussein.
"Maaf kami terlambat, Hussein. Kajiannya sedikit molor karena banyak sesi tanya jawab," ucap Ustadz Hambali. "Kamu sudah salat Isya?"
"Sudah, Ustadz. Tapi kebetulan saya baru salat sunah saja."
"Bagus. Kalau begitu, kita salat Isya berjamaah dulu. Saya, Ummi, dan anak-anak belum salat. Hussein, silakan kamu yang jadi Imam. Abi ingin mendengar bacaanmu."
Titah itu tak bisa dibantah. Hussein melangkah ke ruang salat keluarga yang luas dan beralaskan karpet tebal. Ia berdiri di saf paling depan. Di belakangnya, berdiri Ustadz Hambali. Dan di saf perempuan yang terhalang tirai kain tipis, berdirilah Ummi Reina bersama Hafizah dan Amira.
Hussein mengangkat kedua tangannya. "Allahu Akbar."
Malam itu, di dalam rumah yang mewah, suara bariton Hussein memecah keheningan. Ia melantunkan Surah Ar-Rahman dengan tartil yang sangat lambat, dalam, dan dipenuhi dengan tajwid yang sempurna. Suaranya meliuk, serak-serak basah, memancarkan kepasrahan seorang hamba (yang pada kenyataannya hanyalah akting tingkat dewa).
Dari balik tirai, tubuh Ummi Reina seketika meremang.
POV Ummi Reina: Reina memejamkan matanya erat-erat. Lantunan ayat suci dari mulut pemuda itu menyentuh dasar kalbunya. Suaminya adalah seorang ustadz, namun jujur di dalam hati Reina, bacaan suaminya selalu terdengar datar dan terburu-buru. Namun Hussein... suara pemuda ini memiliki getaran maskulin yang aneh.
Setiap kali Hussein mengambil napas di ujung ayat, dada Reina terasa ikut sesak. Ada rasa kagum yang luar biasa mengalir di hatinya. Kekaguman pada sosok pemuda yang tak hanya tampan secara fisik, namun juga begitu indah agamanya. Namun, setan adalah musuh yang sangat halus. Dari rasa kagum berbalut agama itu, perlahan merayap sebuah getaran biologis. Reina menyadari bahwa hatinya mencondongkan diri bukan hanya pada ayatnya, tetapi pada pria yang membacakannya. Perut bagian bawah Reina terasa berkedut aneh. Ia buru-buru beristigfar dalam sujudnya, memohon ampunan karena telah membiarkan pikiran kotor menyusup di tengah ibadah.
Selesai salat, Ustadz Hambali memuji bacaan Hussein habis-habisan. Mereka kemudian makan malam bersama, dan setelah itu, Ustadz Hambali serta Hussein mengurung diri di ruang kerja. Keduanya berkutat dengan jurnal, data penelitian, dan literatur hingga larut malam.
Jam dinding berdetak di angka satu dini hari.
Ustadz Hambali melepas kacamatanya, memijat pelipisnya yang mulai berkerut. "Subhanallah, saya sudah tidak kuat, Hussein. Mata saya rasanya sudah lengket. Usia memang tidak bisa bohong."
"Silakan beristirahat, Ustadz. Data analisis bab tiga ini biar saya yang selesaikan. Sisa sedikit lagi," jawab Hussein dengan sopan.
"Biar saya temani" "Tidak perlu, Ustadz. Antum butuh tenaga untuk mengajar besok pagi. Insyaallah satu jam lagi saya juga akan tidur di kamar tamu."
Ustadz Hambali tersenyum penuh terima kasih. Ia menepuk pundak Hussein. "Kamu memang pemuda andalan, Hussein. Yasudah, saya tinggal ke kamar dulu. Jangan terlalu dipaksakan."
Pintu ruang kerja tertutup. Suara langkah kaki Ustadz Hambali menaiki tangga perlahan menghilang.
Rumah megah itu kini tenggelam dalam kesunyian yang absolut. Hussein duduk sendirian di depan layar laptop yang menyala. Kesunyian ini... kegelapan ini... adalah teman terbaik bagi iblis.
Setengah jam berlalu. Mata Hussein mulai terasa perih. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi, mengambil air wudu untuk menyegarkan wajah dan berniat melaksanakan salat Tahajud. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menyusuri lorong yang remang, menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamar mandi berada, yang kebetulan letaknya searah dengan lorong kamar utama.
Air keran membasuh wajahnya, mendinginkan kulit putihnya. Namun, dinginnya air itu tidak mampu memadamkan api yang baru saja dinyalakan oleh pendengarannya yang tajam.
Saat Hussein melangkah kembali menyusuri lorong berkarpet tebal itu, langkahnya terhenti secara tiba-tiba.
Dari arah kamar utama kamar Ustadz Hambali dan Ummi Reina terdengar suara yang sangat pelan, sayup-sayup, namun mampu menghentikan detak jantung Hussein.
Itu adalah suara desahan. Rintihan tertahan seorang wanita.
Hussein mematung. Napasnya tertahan di tenggorokan. Iblis yang bersemayam di dadanya langsung membisikkan waswas yang sangat kuat. Logika agamanya menyuruhnya untuk segera berbalik dan menutup telinga, namun insting purbanya sebagai seorang laki-laki penakluk memerintahkannya untuk melangkah maju.
Dengan langkah sepelan hantu, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Hussein mendekati pintu kayu jati besar itu.
Kecanggungan Ustadz Hambali yang kelelahan tampaknya membawa petaka. Pintu kamar utama itu tidak tertutup rapat. Ada celah sekitar dua sentimeter yang terbuka, membiarkan cahaya lampu tidur berwarna keemasan menerobos keluar ke lorong yang gelap.
Napas Hussein mulai memburu. Tenggorokannya mengering. Dengan kelancangan yang luar biasa besar dan tak termaafkan, pemuda berdarah campuran Turki itu mendekatkan wajahnya ke celah pintu. Mata elangnya mengintip ke dalam ruangan suci sang dosen.
Astaghfirullah... batin Hussein merancau, namun matanya tak berkedip sedikit pun.
Di atas ranjang King Size yang luas itu, sebuah adegan yang menghancurkan seluruh dogma kesucian terpampang nyata. Ustadz Hambali, pria paruh baya yang kaku dan selalu menasihati soal menjaga pandangan itu, tengah berbaring tanpa sehelai benang pun.
Namun, yang membuat kewarasan Hussein benar-benar runtuh hingga ke dasar neraka adalah sosok yang berada di atas sang Ustadz.
Ummi Reina. Wanita yang beberapa jam lalu ia kagumi kesopanan dan balutan abayanya, kini memamerkan wujud aslinya. Ia tidak memakai apa-apa. Rambut panjang hitamnya yang selalu tersembunyi di balik khimar kini tergerai berantakan, basah oleh keringat. Wajah ayunya menengadah ke atas, matanya terpejam, dan bibirnya yang biasa melantunkan zikir kini terbuka, mengeluarkan desahan-desahan panjang yang sangat merdu dan penuh gairah.
Reina sedang memimpin pergumulan di atas tubuh suaminya dalam posisi Woman on Top. Gerakan pinggulnya meliuk dengan sangat luwes dan liar, sangat kontras dengan citra keibuannya di luar kamar.
Setiap kali Reina mengangkat pinggulnya dan menghentakkannya kembali ke bawah, Hussein bisa melihat mahakarya Tuhan itu bergetar hebat. Payudara Reina yang sangat penuh, besar, dan ranum berguncang dengan ritme yang memabukkan, mencetak siluet yang sempurna di bawah cahaya lampu tidur. Pinggangnya luar biasa ramping untuk wanita yang telah melahirkan dua anak, mengalir turun menuju bokongnya yang padat dan sintal.
Itu adalah pemandangan kedagingan yang murni. Sisi liar dari seorang akhwat terhormat.
Darah di seluruh tubuh Hussein mendidih dalam sepersekian detik. Sengatan listrik gairah yang teramat dahsyat menghantam bagian bawah tubuhnya. Kejantanan Hussein, warisan genetik Turki yang tebal dan panjang, merespons pemandangan itu dengan sangat brutal. Benda itu mengeras seketika di balik celana bahan yang ia kenakan, berdenyut nyeri meminta untuk dilepaskan. Ia harus meremas kusen pintu untuk menahan tubuhnya yang bergetar menahan hasrat.
Di dalam kamar, pergumulan itu mendekati puncaknya.
"Ah... Bi... Abi... Ummi keluar... ahhh!" Reina mengerang parau, tubuhnya melengkung indah ke belakang. Bersamaan dengan itu, terdengar erangan berat dari Ustadz Hambali. Keduanya mencapai pelepasan. Reina menjatuhkan tubuh sintalnya ke atas dada suaminya dengan napas tersengal-sengal.
Hussein menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia hendak berbalik mundur, namun percakapan yang terjadi selanjutnya menahannya.
"Alhamdulillah..." bisik Ustadz Hambali dengan napas kelelahan. "Luar biasa, Ummi."
Reina, yang tampaknya masih dibakar oleh gairah yang belum sepenuhnya padam—mungkin karena usianya yang sedang berada di puncak hasrat seorang wanita—mengangkat wajahnya. Ia mengecup dada suaminya dengan manja.
"Abi... Ummi masih mau," bisik Reina dengan nada merajuk yang sangat menggoda. "Lagi ya, Bi? Bagian bawah Ummi masih berkedut."
Namun, Ustadz Hambali menepuk punggung istrinya dengan lembut, disertai senyum lelah. "Maaf, Ummi. Pinggang Abi rasanya mau patah. Abi sudah kehabisan tenaga, tadi di kampus banyak sekali pikiran. Besok malam kita lanjutkan lagi ya? Sekarang kita istirahat."
Reina menghela napas panjang, sebuah helaan napas kekecewaan yang sangat jelas terdengar. Wanita matang itu memendam hasratnya kembali. "Iya, Bi. Tidak apa-apa. Biar Ummi ke kamar mandi dulu untuk bersih-bersih."
Mendengar penolakan sang Ustadz dan rasa tidak puas yang dipendam oleh Reina, sebuah ego yang sangat gelap, angkuh, dan penuh kesombongan meledak di dalam kepala Hussein.
Pemuda itu menunduk, menatap kejantanannya sendiri yang masih mengeras sempurna seperti palu godam di balik celananya. Pikiran kotornya langsung membandingkan apa yang ia miliki dengan apa yang baru saja gagal memuaskan wanita itu.
Ustadz Hambali tidak sanggup memuaskanmu, Ummi, batin Hussein dengan seringai iblis yang buas. Jika saja aku yang berada di bawahmu tadi... aku tidak akan berhenti sampai kamu menangis memohon ampun. Pusakaku ini akan merobek kewarasanmu, Ummi. Akan kupastikan setiap inci tubuh sucimu itu tunduk pada keperkasaanku.
Mendengar suara pergerakan Reina yang hendak turun dari ranjang menuju kamar mandi, Hussein buru-buru tersadar. Dengan langkah cepat namun sangat hati-hati, ia mundur dan menuruni tangga, kembali ke ruang kerja di lantai satu.
Sesampainya di ruang kerja, Hussein menutup pintu. Tubuhnya bersandar di dinding. Napasnya memburu parah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia masih dalam keadaan suci setelah berwudu, namun isi kepalanya kini sekotor selokan jahanam.
Hussein berjalan ke arah sajadah yang terhampar di sudut ruangan. Ia mengangkat kedua tangannya. "Allahu Akbar."
Namun, salat malam itu adalah sebuah penistaan. Bibir Hussein merapal ayat-ayat suci Al-Qur'an, namun mata batinnya terus memutar ulang video tanpa sensor yang baru saja ia tonton. Bayangan payudara Reina yang berguncang, rintihan suaranya, dan kilatan keringat di kulit putihnya terus menghantui setiap rukuk dan sujud sang ketua dakwah.
Malam itu, di rumah yang dipenuhi lantunan ayat suci, Hussein meresmikan tekad iblisnya. Kesucian Ummi Reina bukan lagi sekadar hal yang ia kagumi dari jauh. Wanita itu kini telah menjadi target buruan utamanya. Dan cepat atau lambat, Hussein akan memastikan bahwa desahan penuh gairah yang merdu itu... hanya akan dipanggil untuk menyebut namanya.
ns216.73.216.75da2

will be deducted