Prolog: Jauh dari Rumah, Dekat dengan Dosa
Sebut saja namaku Ari. Saat aku menuliskan pengakuan dosa yang panjang ini, aku sudah menjadi seorang pria berkeluarga, memiliki seorang istri dan satu orang anak yang lucu. Saat ini aku menetap di perbatasan wilayah Bogor yang sejuk, meski setiap hari ragaku harus berjibaku dengan kerasnya aspal dan polusi Jakarta demi mencari nafkah.
Sebelum aku membongkar seluruh rahasia gelap yang terpendam di masa laluku, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu. Aku bukanlah seorang pujangga atau penulis novel berkelas. Namun, memori tentang kejadian bertahun-tahun silam itu masih terpatri dengan sangat beringas di dalam kepalaku. Begitu nyata, begitu basah, dan begitu panas.
Kisah ini berawal di Kota Kembang, Bandung.
Saat itu, aku hanyalah seorang mahasiswa perantauan yang baru saja mencicipi kebebasan. Jauh dari pantauan ketat orang tua membuat kepalaku dipenuhi oleh letupan-letupan hormon khas anak muda. Udara Bandung yang saat itu masih tiris pisan (sangat dingin), terutama saat kabut malam mulai turun menyelimuti daerah Dago dan sekitarnya, selalu berhasil membuatku menggigil kesepian di dalam kamar kost. Di sanalah, terpikir olehku bahwa ini adalah kesempatan emas untuk mencoba segala hal baru. Dan tentu saja, godaan terbesar bagi seorang pemuda berdarah panas adalah: Seks.
Dari obrolan warung kopi bersama teman-teman senior yang sudah khatam mengarungi kerasnya pergaulan Bandung, aku menyerap banyak ilmu kotor. Mulai dari tempat penyewaan LD porno ya, waktu itu VCD apalagi internet belum menjamur seperti sekarang hingga tempat membeli majalah stensilan stensilan stensilan yang halamannya sering kali lengket. Aku tahu di mana lorong-lorong remang tempat para teteh-teteh berlipstik merah menyala menjajakan kehangatan, hingga apotek gelap yang menjual obat kuat, obat tidur, dan alat kontrasepsi.
Kalau soal teori, gaya, dan posisi-posisi persetubuhan, aku adalah pakarnya. Aku belajar dari adegan-adegan liar di film biru yang sering kami tonton diam-diam. Namun, ironisnya, di usiaku saat itu, aku masihlah seorang perjaka tulen. Keperjakaan itu terasa seperti sebuah aib yang sangat berat, sebuah beban yang sangat ingin kulepaskan.
Sayangnya, takdir seolah mempermainkanku. Setelah berkuliah selama satu semester penuh, aku sama sekali belum mendapatkan pacar. Maklum, kampusku adalah salah satu kampus teknik ternama di Bandung yang populasinya didominasi 90% laki-laki. Persaingannya sangat brutal. Di kampus teknik, melihat mahasiswi geulis (cantik) sedikit saja, ibarat melihat oase di tengah gurun pasir; langsung diperebutkan oleh puluhan serigala lapar. Dan aku, jujur saja, bukanlah cowok dengan tampang rupawan atau dompet tebal yang beruntung bisa memenangkan hati para kembang kampus. Aku terdampar dalam kutukan jomblo yang menyiksa.
Padahal, aku punya "guru spiritual" yang luar biasa lihai dalam urusan menaklukkan wanita. Dia adalah Rashid, teman satu kostku. Rashid adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk menyusun Tugas Akhir (TA). Meski kami berbeda jurusan, kami satu kampus. Berbeda denganku yang kikuk, Rashid adalah playboy kelas kakap. Ia punya segudang trik manipulatif. Ia bahkan pernah mengajariku bagaimana cara meniduri pacar yang sok alim tanpa harus memaksanya.
"Modalnya gampang, Ri," ucap Rashid suatu malam sambil menghembuskan asap rokoknya. "Lu tinggal sediain obat tidur dosis rendah atau obat perangsang, tergantung lu mau main halus atau main beringas. Sisanya, biar insting laki-laki lu yang jalan."
Trik itu memang sangat berbahaya dan gila. Tapi buat apa aku memikirkannya? Mempraktekkannya saja aku tidak bisa, wong pacar saja tidak punya!
Namun, siapa sangka, karma itu nyata. Berkat trik licik yang pernah Rashid ajarkan itulah, aku akhirnya berhasil membuang keperjakaanku. Dan ironisnya, wanita yang merenggut keperjakaanku tak lain dan tak bukan adalah Rani, bidadari cantik yang merupakan pacar kesayangan Rashid sendiri. Sampai detik ini, Rashid tidak pernah tahu bahwa malam itu, di bawah atap kost yang sama, pacar yang sangat ia puja telah disetubuhi habis-habisan oleh dua sahabatnya sendiri.
Aku memang bukan otak utama di balik skenario pengkhianatan malam itu. Adalah Kamil, anak kost satu lagi yang juga teman dekat kami berdua, yang mengeksekusi trik gila tersebut. Aku? Aku hanyalah penonton yang beruntung kecipratan "getah" nikmatnya.
Chapter 1: Bidadari Porselen Milik Sang Raja Sesat
Rumah kost kami adalah sebuah bangunan tua bergaya Belanda yang cukup besar, terletak sedikit masuk ke dalam gang yang sepi. Di lantai dua, hanya terdapat tiga kamar besar yang dihuni oleh aku, Kamil, dan Rashid. Keluarga Ibu Kost tinggal di bangunan utama di lantai bawah. Tata letak ini memberikan kami privasi yang luar biasa, apalagi kami memiliki akses pintu belakang dan tangga putar yang tak terlihat dari rumah utama.
Di antara kami bertiga, Kamil dan Rashid adalah seniorku. Keduanya berasal dari Jakarta, sama sepertiku. Kamil sebenarnya punya pacar di Jakarta, tapi pacarnya itu kelewat alim dan menolak diajak melakukan hal-hal yang "aneh". Meski begitu, Kamil bukanlah perjaka suci sepertiku. Jam terbangnya sudah lumayan tinggi sejak SMA. Hubungan LDR (Long Distance Relationship) Kamil akhirnya kandas karena pacarnya selingkuh, membuat Kamil berubah menjadi sosok yang lebih sinis dan haus pelampiasan.
Tapi, bintang utama di rumah kost kami adalah Rashid. Si Raja Sesat.
Rashid doyan gonta-ganti pacar. Hampir semua wanita yang pernah ia bawa ke kamar kost pasti pernah ia cicipi tubuhnya. Namun, di tahun terakhir kuliahnya ini, Rashid menambatkan hatinya pada satu wanita. Sebuah hubungan yang katanya sangat serius, bahkan Rashid sesumbar ingin menikahinya kelak.
Nama wanita itu adalah Rani.
Di mata semua pria normal, Rani adalah definisi mutlak dari kesempurnaan. Ia adalah mahasiswi dari universitas swasta terkenal di Bandung. Asalnya juga dari Jakarta. Dari segi fisik, Rani adalah mahakarya Tuhan yang membuat tenggorokan siapa pun akan kering saat menatapnya. Kulitnya seputih porselen Cina, mulus tanpa noda, memancarkan aura glowing yang mahal. Tubuhnya tidak kurus kerempeng, melainkan padat berisi dengan proporsi bak gitar Spanyol.
Payudara Rani berukuran lumayan besar, montok, dan selalu membusung menantang di balik balutan kemeja flanel atau kaus ketat yang sering ia kenakan. Pinggulnya melebar indah, sangat kontras dengan perutnya yang ramping dan rata. Rambut panjangnya yang hitam legam sering dibiarkan tergerai jatuh ke bahu, membingkai wajah tirusnya yang memancarkan pesona manja nan menggoda. Setiap kali Rani berjalan melewati lorong kost kami, aroma parfum vanila bercampur aroma feromon alaminya selalu tertinggal, membuatku dan Kamil diam-diam menelan ludah.
Rani sangat sering berkunjung ke kamar Rashid. Kadang ia datang sendiri naik angkot, kadang Rashid menjemputnya. Dan setiap kali bidadari porselen itu masuk ke dalam kamar Rashid, pintu kayu tebal itu akan dikunci rapat.
Kami semua tahu apa yang terjadi setelahnya.
Meski kamar kami berukuran besar dan dindingnya cukup tebal, keheningan malam Bandung selalu berhasil menghantarkan suara-suara laknat dari kamar Rashid ke telingaku.
Biasanya, semuanya diawali dengan derit per ranjang kayu yang berirama konstan. Ngiik... ngiik... ngiik... Lalu, disusul oleh suara desahan dan rintihan Rani yang sangat erotis.
"Ahhh... Aa' Rashid... terus, A'... ahhh... Gusti, jero pisan (dalam sekali)..."
Suara rintihan Rani itu bagaikan siksaan neraka bagi kejantananku yang masih perawan. Aku sering kali berbaring di atas kasurku, menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah, sementara tanganku tanpa sadar meremas selangkanganku sendiri. Terkadang, jika permainan Rashid sedang beringas, rintihan Rani akan berubah menjadi jeritan melengking saat ia mencapai puncak kenikmatannya. Setelah jeritan itu meledak, kegaduhan akan berhenti, digantikan oleh keheningan pertanda mereka telah kelelahan dan tertidur.
Tapi, jika Rashid sedang kesetanan dan hasratnya menggebu-gebu, ia akan memompa tubuh Rani seperti menunggangi kuda liar. Siang, sore, malam, tak kenal waktu. Suara rintihan putus asa dari Rani bisa terdengar berulang-ulang, bersahut-sahutan dengan derasnya hujan di luar. Rani bahkan tak jarang menginap.
Kami, dua penghuni kost lainnya, hanya bisa menahan napas, saling melempar pandangan penuh rasa iri dan cemburu atas "keberuntungan" si Raja Sesat itu.
Chapter 2: Kepanikan di Ujung Tangga
Hari itu adalah hari Jumat. Langit Bandung mendung sejak sore. Rashid berpamitan sejak siang, mengatakan bahwa ia harus mengerjakan proyek Tugas Akhir-nya di laboratorium kampus sampai larut malam. Aku dan Kamil, yang sedang tidak ada kelas, hanya asyik nongkrong dan merokok di lorong depan kamar kami.
Sekitar pukul 8 malam, langkah kaki ringan terdengar menaiki tangga. Itu Rani.
Malam itu, Rani tampak luar biasa memabukkan. Ia mengenakan celana jeans biru ketat yang mencetak jelas bokong sintalnya, dipadukan dengan kaus oblong putih tipis yang menempel pas di payudaranya. Rambutnya diikat asal, dan bibirnya dipoles lip-gloss tipis.
"Eh, Kak Kamil, Ari. Rashidnya belum pulang ya?" sapa Rani dengan suara manjanya yang serak-serak basah.
"Belum, Ran. Kata si Bos sih dia bakal lembur di lab sampai tengah malam," jawab Kamil santai, sambil diam-diam melirik belahan dada Rani.
Mendengar itu, Rani mengerucutkan bibirnya lucu. "Yahh... padahal aku udah bela-belain datang cepet. Yaudah deh, aku tunggu di dalam kamarnya aja ya."
Jaman itu belum ada handphone atau pager. Komunikasi sangat terbatas. Rani yang sudah punya kunci cadangan kamar Rashid pun dengan leluasa membuka pintu dan masuk ke dalam sarang pacarnya. Hal seperti ini memang sering terjadi dan dilarang keras oleh Ibu Kost. Namun, selama kami tutup mulut, Ibu Kost di bawah tak akan pernah tahu.
Pukul 9 malam, hawa dingin semakin menusuk tulang. Aku dan Kamil masuk ke kamar masing-masing. Pintu belakang yang menghubungkan lorong kami dengan tangga putar luar pun sudah digrendel rapat oleh pembantu rumah dari bawah.
Sekitar pukul 10 malam, perutku memberontak. Tiba-tiba aku ingin menyeduh susu cokelat hangat. Aku mengambil termos kecilku dan berjalan menuruni tangga utama yang mengarah ke dapur di lantai bawah.
Saat aku sedang mengisi air panas, telingaku menangkap suara percakapan dari arah ruang tamu utama Ibu Kost. Ruang tamu itu terhalang sekat, tapi suaranya terdengar cukup jelas.
"Iya, Bu, Pak. Kami sengaja mampir malam-malam dari Jakarta, sekalian mau kasih kejutan buat Rashid. Kangen juga sama anak bujang itu," sebuah suara bariton seorang bapak-bapak terdengar.
Darahku berdesir hebat. Termos di tanganku nyaris merosot. Itu suara bapaknya Rashid!
"Oh, silakan, Pak, Bu. Rashidnya kalau jam segini biasanya ada di kamar kok, lagi ngerjain skripsi katanya," balas Bapak Kost ramah. "Mari saya antar naik ke atas."
GAWAT! INI BENAR-BENAR GAWAT!
Jantungku berdegup gila-gilaan. Kalau Bapak dan Ibu Rashid naik sekarang dan memergoki ada seorang wanita cantik nan seksi terkunci di dalam kamar anak mereka pada jam 10 malam, bisa hancur dunia persilatan! Apalagi Bapaknya Rashid terkenal sangat kolot dan galak.
Tanpa mempedulikan termosku yang baru terisi setengah, aku langsung berlari mengendap-endap menaiki tangga. Aku harus memberi tahu Kamil. Dia lebih senior dan lebih paham bagaimana menghadapi orang tua Rashid.
Aku menggedor kamar Kamil dengan panik. "Mil! Mil! Buka buruan!" bisikku histeris.
Pintu terbuka. Kamil yang sedang bertelanjang dada menatapku heran. "Paan sih, Ri? Kayak dikejar setan lu."
"Ortunya Rashid di bawah! Bareng Bapak Kost! Mereka mau naik ke kamar Rashid sekarang!" desisku cepat.
Wajah Kamil seketika pucat. Dia terdiam, otaknya yang licik pasti sedang berputar cepat mencari jalan keluar. Aku mengira ia akan langsung berlari ke kamar Rashid untuk menyuruh Rani kabur. Namun, alih-alih keluar, Kamil justru membalikkan badannya dan masuk kembali ke kamarnya.
"Tunggu sebentar, Ri," katanya pelan.
"Wah, kumaha sih maneh teh (gimana sih kamu tuh)! Kok malah masuk lagi?! Keburu naik mereka!" rutukku kesal dan panik.
"Sabar, anjing! Sebentar doang!" balasnya dari dalam kamar.
Detik demi detik terasa seperti berjam-jam. Sekitar dua menit kemudian, Kamil keluar sambil menyeringai aneh, sebuah cengiran licik yang tak kupahami. Tangannya merogoh saku celananya.
"Ngapain lu, Bos?" tanyaku penuh curiga.
"Udah, gak usah banyak bacot," jawabnya cepat.
Kami berdua bergegas ke depan kamar Rashid. Kamil mengetuk pintunya. Tok tok tok! Tidak ada jawaban. Kamil mengetuk lebih keras. Di saat yang sama, dari ujung bawah tangga, suara langkah kaki dan obrolan Bapak Kost dan orang tua Rashid mulai terdengar naik.
"Ri, do something! Lu turun sekarang, cegat mereka di tangga! Jangan biarin mereka naik!" perintah Kamil dengan mata melotot.
"Gila lu! Trus urang kudu ngapain?!" tanyaku kebingungan.
"Ngapain kek! Ajak ngobrol, pura-pura kesurupan kek, yang penting tahan mereka! Buruan!"
Dalam kondisi panik dan tak punya pilihan, aku memutar badan dan berlari menuruni tangga. Tepat di bordes pertengahan tangga, aku berpapasan dengan mereka bertiga. Aku berpura-pura kaget sambil menenteng termosku.
"Loh, Om, Tante? Kapan nyampe dari Jakarta?" sapaku dengan suara yang sengaja dikeraskan, berharap Kamil dan Rani di atas mendengarnya.
"Eh, Ari. Baru aja nyampe, Ri. Ini mau nengok si Rashid," jawab Ibunya Rashid tersenyum ramah.
"Waduh, Tante, Om..." aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Mas Rashidnya lagi nggak ada di kamar. Dia lagi ngerjain TA di lab kampus, katanya lembur sampai subuh."
Langkah mereka terhenti. Bapak Kost tampak kebingungan. "Loh, nggak ada toh? Kunci kamarnya dibawa nggak, Ri?"
"Kayaknya dibawa, Pak. Tadi pintunya digembok," bohongku lancar.
"Ya sudah, kalau gitu saya ambil kunci cadangannya dulu di laci depan. Bapak dan Ibu tunggu sebentar ya," kata Bapak Kost, lalu berbalik turun ke lantai bawah.
Alhamdulillah, Gusti... setidaknya aku berhasil mengulur waktu beberapa menit. Sambil menunggu Bapak Kost mengambil kunci cadangan, aku memberondong orang tua Rashid dengan berbagai cerita basa-basi soal skripsi dan kerasnya kuliah di teknik, sekadar menahan mereka agar tetap berdiri di tangga.
Tak lama, Bapak Kost kembali membawa segepok kunci. Aku sudah kehabisan peluru untuk menahan mereka. Aku hanya bisa pasrah menyingkir ke pinggir dinding, membiarkan mereka naik ke lantai dua. Aku mengekor di belakang mereka dengan dada berdebar tak karuan.
Sesampainya di lorong atas, aku melirik ke arah kamar Rashid. Pintu itu tertutup rapat. Begitu juga dengan kamar Kamil. Bapak Kost memasukkan kunci cadangan, memutarnya, dan... ceklek. Pintu terbuka.
Bapak Kost menyilakan orang tua Rashid masuk, lalu ia sendiri menyusul.
Aku menahan napas. Telingaku bersiaga menunggu suara jeritan kaget dari dalam. Satu detik... dua detik... sepuluh detik... Tidak ada apa-apa. Hanya terdengar suara Ibunya Rashid yang mengomentari kamar anaknya yang berantakan.
Aku menghembuskan napas panjang. Huuufff... selamat.
Tapi tunggu dulu. Kalau Rani tidak ada di kamar Rashid, ke mana bidadari montok itu bersembunyi? Tidak mungkin ia turun lewat pintu belakang, karena pintu itu digrendel dari bawah dan kalaupun ia membukanya, suaranya pasti terdengar kencang. Meloncat dari jendela lantai dua juga sama saja bunuh diri.
Analisa logis satu-satunya: Kamil menyembunyikannya di dalam kamarnya. Ya, pasti begitu.
Tebakanku terbukti benar seratus persen. Beberapa saat kemudian, pintu kamar Kamil terbuka sedikit. Kamil melongokkan kepalanya, memastikan keadaan aman. Saat melihatku berdiri mematung di lorong, ia keluar perlahan. Ia langsung merangkul pundakku dan menarikku masuk ke dalam kamarku sendiri, menjauh dari kamar Rashid.
Kamil menutup pintu kamarku pelan-pelan. Wajahnya memerah, matanya berkilat penuh dengan gairah dan kelicikan yang luar biasa. Ia menatapku tajam, lalu berbisik dengan suara sangat pelan.
"Ri... lu jangan sampai bilang ke Rashid ya, kalau malam ini Rani datang ke sini," bisiknya serius.
Aku mengernyitkan dahi. "Loh, naha (kenapa), Mil?"
"Pokoknya jangan deh," Kamil tersenyum nakal, sebuah seringai iblis yang membuat bulu kudukku meremang.
"Iya, tapi kenapa euy? Emangnya ada apa? Terus si Rani sekarang di mana?" tanyaku beruntun, rasa penasaranku mulai memuncak.
Kamil menepuk dadaku pelan. "Gini aja deh. Lu tutup mulut, pura-pura bego di depan Rashid, dan gue janji... satu atau dua jam lagi, lu bakal dapat kejutan yang paling istimewa seumur hidup lu."
"Kejutan apaan sih, Bangsat? Gak ngerti aing!" paksaku.
Kamil tidak menjawab. Ia hanya mengedipkan sebelah matanya, tertawa tertahan, lalu bergegas keluar dan kembali menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Aku duduk terhempas di atas ranjangku. Otakku yang selama ini dipenuhi teori seks dari film biru mulai menyusun kepingan-kepingan puzzle yang ditinggalkan Kamil. Obat perangsang... trik licik Rashid... kepanikan tadi... senyum mesum Kamil... dan kejutan istimewa untukku.
Deg!
Apakah... apakah Kamil berencana meniduri Rani? Apakah ia memasukkan sesuatu ke dalam minuman Rani saat gadis itu panik bersembunyi? Tapi... Rani itu pacar sahabatnya sendiri! Masa iya Kamil setega itu? Dan lagi, masa iya Rani, cewek sesempurna itu, mau mengkhianati Rashid semudah itu?
Lalu... janji Kamil soal 'giliranku'.
Napas ku seketika tersengal. Darahku berdesir, mengalir deras memompa jantungku dan berpusat lurus ke arah selangkanganku. Kejantananku yang selama 20 tahun tertidur pulas dalam keperjakaan, tiba-tiba terbangun menegang dengan sangat brutal.
Ya Tuhan... jika analisa liarku ini benar, maka malam ini, di dalam kost yang dingin ini, aku akan merobek keperjakaanku. Dan bukan dengan wanita sembarangan, melainkan dengan bidadari porselen paling seksi yang selama ini hanya bisa kuimpikan dalam masturbasiku.
Aku mondar-mandir di dalam kamarku bagaikan harimau lapar yang menunggu jatah daging segar. Pikiranku dipenuhi oleh horor ketahuan Rashid, namun ketakutan itu dihancurkan lebur oleh rasa horny yang luar biasa gila. Hehehehe... malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Chapter 3: Rintihan Dosa di Balik Tembok
Aku menempelkan telingaku ke dinding kamarku yang berbatasan langsung dengan kamar Kamil. Suasana sangat sepi. Orang tua Rashid dan Bapak Kost masih mengobrol pelan di dalam kamar sebelah.
Sekitar empat puluh lima menit berlalu. Kesabaranku nyaris habis. Tiba-tiba, dari balik dinding bata yang dingin itu, telingaku menangkap suara-suara yang membuat lututku lemas.
Suara itu sangat pelan, tertahan, namun sangat jelas ritmenya.
Ngiik... ngiik... plok... plok... plok...
Lalu, disusul oleh suara desahan serak yang sangat familiar.
"Mmmmmhhh... hhh... ahhh... ahhh... Kak Kaaa-mil... pelan... hh... ahhhh!"
Itu suara Rani! Ya, aku kenal betul lenguhan serak itu. Itu adalah desahan yang sama persis dengan yang sering kudengar dari kamar Rashid. Namun kali ini, nama yang disebutnya berbeda. Kamil telah berhasil! Iblis Jakarta itu benar-benar meniduri pacar sahabatnya sendiri!
Gairahku meledak hingga ke ubun-ubun. Aku mengintip dari balik celana pendekku. Kejantananku sudah keras seperti besi, menonjol menyakitkan karena aku memang tak memakai celana dalam. Aku mendengarkan persetubuhan kotor itu dengan dada bergemuruh. Suara tamparan kulit mereka semakin lama semakin intens. Rani pasti sedang digempur habis-habisan dalam posisi yang paling nikmat. Membayangkan tubuh putih mulus Rani bergesekan dengan tubuh berkeringat Kamil membuatku nyaris tak bisa menahan kewarasanku.
Setelah sekitar lima belas menit suara "perang" itu berlangsung, ritmenya melambat. Suara desahan Rani menghilang, digantikan oleh suara napas terengah-engah dan bisik-bisik pelan.
Apakah mereka sudah selesai? Apakah mereka tertidur karena kelelahan?
Kepanikan baru menyerangku. Waduh, aing kumaha yeuh?! (Waduh, aku gimana nih?) Kalau mereka ketiduran sampai pagi, aku bisa gagal dapat jatah!
Rasa frustrasi dan nafsu yang sudah di ujung tanduk mengalahkan rasa sungkanku. Aku nekat membuka pintu kamarku pelan-pelan. Lorong sepi. Aku mengendap-endap menuju kamar Kamil, lalu mengetuk kayunya dua kali dengan sangat pelan. Tok. Tok.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Aku mengetuk sekali lagi.
Terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu suara kunci diputar. Pintu terbuka sedikit. Wajah Kamil muncul di celah pintu. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, dan keringat membanjiri pelipisnya. Namun, ada senyum sumringah yang sangat puas tercetak di bibirnya.
"Siapa?" bisik Kamil, berpura-pura bego.
"Gue, Ari, Bos," jawabku tak kalah pelan, mataku melirik ke dalam kamarnya yang gelap remang-remang.
Kamil terkekeh pelan. "Udah gak sabaran lu ye, monyet?" godanya.
Tanpa ragu, Kamil membuka pintu itu lebih lebar dan menarik lenganku masuk. Begitu aku melangkah masuk dan pintu dikunci kembali, mataku terbelalak hingga nyaris copot dari rongganya.
Kamil berdiri di hadapanku dengan kondisi bertelanjang bulat seratus persen. Tidak ada sehelai benang pun di tubuhnya. Tubuhnya mengkilap oleh keringat. Dan di antara kedua pahanya, kejantanannya yang masih basah oleh cairan tampak menggantung, meski sudah agak lemas namun masih terlihat sisa-sisa ketegangannya usai memuntahkan lahar. Aroma kamar itu sangat pekat; perpaduan antara wangi parfum vanila Rani, bau keringat maskulin, dan aroma feromon seks yang luar biasa tajam.
Namun, bukan ketelanjangan Kamil yang membuatku berhenti bernapas. Pandanganku tersedot sepenuhnya pada pemandangan epik yang tersaji di atas ranjang spring bed milik Kamil.
Di sana, di bawah cahaya remang-remang lampu tidur, terbaringlah sosok bidadari porselen itu. Rani.
Wanita yang selama ini selalu diagung-agungkan Rashid sebagai calon istri yang sempurna, kini terbaring telanjang bulat tanpa busana sekecil apa pun. Tubuh putihnya yang mulus bak pualam memantulkan cahaya kuning lampu, menciptakan siluet lekuk tubuh yang luar biasa erotis. Payudaranya yang montok jatuh ke samping mengikuti gravitasi, puting kecokelatannya menonjol basah. Keringat membuat kulitnya berkilau, menambah kesan binal yang sangat liar.
Rani menoleh menatapku. Alih-alih menjerit atau menutupi tubuhnya karena malu ketahuan oleh pria lain, Rani justru tersenyum manis dengan tatapan sayu yang sangat menggoda. Efek racun birahi dari Kamil sepertinya telah menghancurkan seluruh menara rasa malunya. Ia merubah posisinya yang tadinya telentang, melipat kedua kakinya untuk sedikit menutupi area kewanitaannya, lalu menyilangkan tangan di atas dada, meski belahan payudaranya masih terlihat menantang.
"Hey... kenapa bengong?" sapa Rani dengan suara manja dan serak, memecah kesunyian. Ia malah tertawa kecil melihat reaksiku. "Baru pertama kali ya lihat cewek telanjang, Ri? Lucu banget sih ekspresi kamu."
Aku benar-benar melongo, menelan ludah berkali-kali dengan jakun yang naik turun cepat. Otakku error.
Kamil menepuk punggungku cukup keras dari belakang, mendorongku maju. "Udah sana, sikat jatah lu. Itu 'adik' lu udah bangun nantang gitu," kekeh Kamil santai.
Rani ikut tertawa renyah mendengar candaan Kamil. Matanya melirik ke arah celana pendekku yang memang sudah membentuk tenda sirkus yang sangat lancip. Karena aku tidak memakai celana dalam, bentuk kejantananku tercetak jelas di balik kain katun tipis itu.
Kamil kemudian berjalan santai menuju kursi belajarnya dan duduk telanjang di sana, melipat tangannya di dada bak seorang sutradara film dewasa yang siap menikmati karyanya.
Aku masih kaku. Berjalan gontai mendekati ranjang, aku duduk di tepian kasur dengan lutut yang bergetar parah.
Rani perlahan bangkit dari posisi baringnya. "Sebentar ya, Ri. Aku ke kamar mandi dulu. Sperma Si Kamil banyak banget nih di dalam, meluber," ucapnya santai tanpa dosa.
Saat Rani berdiri dan berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut kamar, mataku disuguhi pemandangan yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Dari celah kedua paha porselennya yang mulus, mengalir turun cairan putih kental yang sangat banyak. Cairan itu menetes melewati paha dalamnya. Aku bisa melihat area kewanitaannya (veggynya) yang memerah dan sedikit membengkak akibat gempuran beringas Kamil barusan.
Kamil tertawa kecil dari kursinya, tampak bangga melihat hasil karyanya yang tumpah ruah dari rahim pacar sahabatnya sendiri.
Saat Rani di kamar mandi, terdengar gemericik air. Kamil mengarahkan pandangannya padaku dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum licik. Aku hanya bisa mengangguk pelan, jantungku masih berdegup bagai genderang perang.
"Buka dong baju lu semua, Ri. Masa mau main pakai seragam bola?" tegur Kamil.
Perintah itu seolah membebaskanku dari belenggu. Tanpa ragu lagi, aku menarik kaus oblongku dan melemparkannya ke lantai. Lalu, dengan tangan gemetar, aku melorotkan celana pendekku. Begitu celana itu jatuh, kejantananku yang sejak tadi tersiksa seketika melenting keras ke atas dengan bunyi tepukan pelan di perutku. Posisinya tegak lurus menantang langit.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Rani keluar sambil mengelap area bawahnya dengan sehelai handuk kecil. Begitu melihatku berdiri telanjang bulat dengan "senjata" yang berdiri kokoh, Rani tersenyum lebar. Matanya berkilat nakal.
"Duhhh... Ya ampun, Ri. Langsung gede dan keras gitu ya?" goda Rani. Dengan langkah yang meliuk menggoda, bidadari porselen itu berjalan mendekatiku. Aura sensualnya benar-benar menyedot habis oksigen di sekitarku. Lututku sampai lemas, tubuhku merinding, rasanya seperti kedinginan tapi di saat yang sama darahku mendidih panas.
Rani meraih sebuah botol lotion dari dalam tasnya yang tergeletak di nakas. Ia memompa cairan itu ke telapak tangannya yang lentik dan halus, lalu duduk berlutut di depanku.
Tanpa aba-aba, jemari lembut Rani menggenggam pangkal kejantananku.
"Ahhh..." desisku tak tertahan. Ini adalah kali pertama seumur hidupku "benda" itu disentuh oleh seorang wanita cantik dengan sengaja.
Rani membalurkan lotion yang dingin itu ke seluruh permukaan kejantananku yang keras membatu. Ia menggosoknya naik turun dengan ritme lambat yang luar biasa nikmat. Sambil memanjakanku, Rani menoleh ke arah Kamil yang duduk di kursi.
"Mil, ini kok kayaknya lebih gemukan dan panjang dari punya kamu ya?" goda Rani sambil tersenyum nakal, tangannya terus memilin senjataku.
Kamil tertawa hambar. "Oh, gitu ya, Yang? Coba aja rasain sendiri nanti kedalamannya," balas Kamil tak mau kalah.
"Kamu baring deh, Ri," perintah Rani lembut, menarik tanganku.
Aku menuruti perintahnya layaknya kerbau yang dicocok hidungnya. Aku merebahkan punggungku di atas kasur spring bed yang masih menyimpan sisa kehangatan dan aroma keringat Kamil. Rani merangkak naik, memposisikan lututnya di sisi kanan dan kiri pinggulku. Ia kini berada di atasku, rambut panjangnya tergerai menyentuh dadaku. Payudaranya yang besar menggantung indah, putingnya yang kemerahan tepat berada di depan wajahku.
Rani meraih kejantananku, mengarahkannya tepat ke depan pintu surga miliknya yang masih kemerahan dan sangat basah.
Detik-detik kehilangan keperjakaanku terjadi tepat di depan mataku sendiri. Aku menahan napas, mataku membelalak lebar, merekam setiap detail momen magis ini di kepalaku. Hehehehe... aku benar-benar jadi laki-laki sekarang.
Perlahan, dengan gerakan yang sangat berhati-hati, Rani menurunkan pantat montoknya. Ujung kejantananku menyentuh bibir kewanitaannya yang basah, dan perlahan menyelusup masuk. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana daging lembut nan merah itu meregang, membuka, dan seolah menghisap senjataku perlahan-lahan ke dalam perutnya.
Sensasi hangat, basah, padat, dan luar biasa ketat langsung menjepit ujung sarafku. Otakku nyaris meledak saking nikmatnya.
Rani memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya berkerut menahan sensasi sesak. Ia terdengar seperti sedang mengejan pelan, "Ehhhhgggg... aduhhh, Kang Ri... gemuk amat sih burungnya... eungggghhh..." rintih Rani parau. Tubuhnya sedikit bergetar ketika ia memaksakan bagian tertebal dari kejantananku masuk melewati mulut rahimnya.
Jleb.
Akhirnya, seluruh batang kejantananku tertelan habis tak bersisa di dalam tubuh hangat pacar sahabatku itu. Rani berhenti sejenak, bertumpu pada kedua tangannya di dadaku, mengambil napas dalam-dalam untuk beradaptasi dengan ukuran baruku yang mengisi kepenuhannya.
Ia menunduk menatap mataku, sebuah senyum manis dan binal mengembang di bibirnya.
"Selamat ya... kamu udah gak perjaka sekarang, Ri," bisiknya nakal.
"Iya, Mba... Nuhun pisan (terima kasih banyak) ya, Mba..." jawabku dengan suara bergetar. Aku mengangkat kepalaku dan mencium bibir merahnya dengan rakus.
Dan setelah ciuman itu terlepas, Rani mulai beraksi.
Ia mengangkat pinggulnya sedikit, menarik kejantananku hingga nyaris keluar, lalu menghantamkannya kembali ke bawah. Plakkk.
"Uuuuuuggghhhh... Gusti nu Agung..." erangku tanpa sadar. Nikmatnya benar-benar tak masuk akal! Jadi ini rasanya ngentot? Jauh... sangat jauh beribu-ribu kali lipat lebih enak daripada masturbasi! Sensasi jepitan daging hangat yang memerah senjataku membuat tubuhku melengkung. Pantas saja banyak pria yang rela melakukan apa saja demi seks.
Rani sangat piawai di atas ranjang. Ia tidak sekadar naik-turun seperti mesin. Goyangannya memiliki variasi yang membuatku gila. Kadang ia memaju-mundurkan pinggulnya menggesek pangkal senjataku, lalu ia mengubahnya menjadi gerakan memutar yang dalam seperti orang yang sedang nguleg sambel di atas cobek. Setiap putaran itu seolah memeras setiap saraf di batang kejantananku. Dan tentu saja, gerakan naik-turun erotisnya terus dilanjutkan, membuat payudaranya yang montok berayun-ayun liar di depan mataku.
Insting kelelakianku yang baru lahir menuntunku. Aku mengangkat kedua tanganku, meraih payudara Rani yang membusung itu, meremasnya lembut, lalu menarik tubuhnya merunduk ke arah wajahku. Aku melahap salah satu putingnya, menghisapnya kuat-kuat seperti bayi kelaparan.
Ternyata sentuhan itu adalah titik lemah Rani. Begitu putingnya kuhisap, goyangannya berubah menjadi beringas. Ia membusungkan dadanya, menekan payudaranya lebih dalam ke mulutku. Rintihan yang sebelumnya hanya kudengar samar dari balik tembok, kini meledak dengan sangat jelas dan vulgar tepat di telingaku.
"Ahhh... ahhh... Ariii... sedot yang kuat, Ri... ahhh... raos pisan (nikmat sekali)... uhhhh... jero bangettt..." desah Rani, matanya terpejam dan rambutnya menari-nari.
"Gimana rasanya, Ri?" tanya Rani manja di sela-sela goyangannya yang semakin cepat, keringatnya menetes jatuh ke perutku.
"Enak, Mba... enak bangettt... edan..." jawabku parau, pinggulku mulai secara refleks membalas dorongannya dari bawah.
"Kalau mau keluar bilang ya, Sayang," bisik Rani sambil tersenyum.
Gusti... cantik benar wanita ini. Cantiknya bukan lagi cantik seorang mahasiswi biasa, melainkan cantik yang sangat erotis, liar, dan penuh dosa. Di titik ini, aku sudah buta. Aku tidak peduli lagi bahwa wanita di atasku ini adalah calon istri Rashid. Aku juga tidak peduli bahwa Kamil sedang menonton kami dari kursi dengan mata menyala-nyala. Aku melirik sekilas ke arah Kamil, kulihat tangan senior licik itu sedang menggosok-gosok kejantanannya sendiri yang rupanya telah kembali membengkak keras melihat adegan ini.
Sayangnya, karena ini adalah pengalaman pertamaku, ditambah dengan goyangan maut Rani yang luar biasa menjepit, aku tidak bisa bertahan lama. Baru lima menit aku digoyang dalam surga dunia itu, perut bawahku terasa melilit panas. Desakan lahar putih itu sudah berada di ujung tanduk.
"Mba... aduh, Mba... aku... mau... ke... lu... aarrr..." rintihku panik, pinggulku mengejang.
Mendengar itu, Rani langsung menghentikan goyangannya secara mendadak. Dengan satu tarikan cepat, ia mencabut kewanitaannya dari senjataku. Bunyi pop basah terdengar. Aku sempat mengerang kecewa karena rasa nikmat gesekan itu terputus paksa.
Namun, kekecewaanku hanya bertahan sedetik. Rani memiringkan tubuhnya, tangannya dengan cekatan menggenggam pangkal kejantananku yang berkedut-kedut hebat. Ia memajukan wajahnya, menadahkan mulut kecilnya yang terbuka lebar tepat di depan ujung senjataku.
Ternyata bidadari ini ingin menelan lahar pertamaku!
Karena sudah tak sanggup lagi menahan bendungan yang jebol, aku mengejang hebat. Pinggulku terangkat dari kasur. "AAAAHHHHH!!!"
Aku memuncratkan spermaku dengan kekuatan yang luar biasa. Tembakan cairan kental yang panas dan sangat banyak itu menyembur keluar bertubi-tubi. Rani dengan cekatan menampung muntahan itu dengan mulutnya. Ia menelan lahar pertamaku itu dengan rakus, lehernya bergerak-gerak menelan cairan kental itu. Saking banyak dan derasnya tembakanku, rongga mulut mungil Rani tak sanggup menampung semuanya. Beberapa tetes cairan putih kental mengalir luber dari sudut bibirnya, menetes menyusuri dagu dan jatuh ke dadanya yang telanjang.
Rani menjilat sisa cairan di bibirnya dengan lidah, lalu tersenyum sangat manis dengan sisa sperma di dagunya. "Sperma perjaka... biar awet muda," godanya manja.
Aku terbaring lemas sejadi-jadinya. Napasku tersengal-sengal parah. Tubuhku terasa melayang di awan setelah gelombang orgasme pertama dalam hidupku tuntas dieksekusi.
Rani masih dalam posisi setengah menungging di hadapanku, tangannya masih membelai lembut senjataku yang mulai perlahan melembut akibat ejakulasi. Payudaranya yang terkena cipratan mani naik turun teratur.
Tiba-tiba, suara derit kursi terdengar. Kamil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati ranjang.
"Rani... kamu masih belum tuntas kan tadi?" tanya Kamil. Suaranya serak berat. Pria itu berdiri menjulang di belakang punggung Rani. Tangan kirinya memegang kejantanannya yang ternyata sudah menegang sangat keras dan besar bak tongkat pemukul.
Rani menoleh ke belakang, melirik tongkat daging Kamil yang siap tempur. "Huuu... dasar kamu tuh ya, rakus," komentar Rani sambil tersenyum genit, sama sekali tidak menutupi tubuhnya dari tatapan liar Kamil.
Kamil tak membuang waktu. Ia meraih kedua pinggul Rani dari belakang. Rani, yang sudah sangat paham apa yang akan terjadi, tetap mempertahankan posisi setengah menunggingnya di hadapanku, sementara bokong sintalnya menjorok ke arah Kamil.
Kamil mengangkat pantat Rani agak tinggi, menariknya ke arah perutnya dengan tarikan yang lumayan kasar.
"Hey... pelan-pelan dong, Kang!" protes Rani setengah manja sambil tertawa pelan.
Namun, tawa manja Rani seketika terputus, berubah menjadi erangan melengking. "OWWWWWWWW.... Gustiiii...." Rani memekik saat Kamil tanpa aba-aba menjebloskan senjatanya yang keras itu menembus lubang kenikmatan bagian belakang Rani dalam satu dorongan brutal.
Ranjang kembali berderit hebat. Plakkk! Plakkk! Plakkk!
Kamil langsung memompa tubuh indah Rani dari arah belakang dengan kecepatan penuh. Pinggul Kamil menghantam bokong putih Rani bertubi-tubi tanpa ampun. Mereka berdua mulai mengayuh kembali perahu kenikmatan ragawi tersebut.
Aku yang masih berbaring telentang di hadapan wajah Rani, menjadi penonton VIP dari pertunjukan gila ini. Jarak wajah Rani hanya beberapa jengkal dari perutku. Aku bisa melihat dengan sangat detail setiap perubahan ekspresi di wajah porselennya. Mulut Rani terbuka lebar, alisnya berkerut menahan gempuran dari belakang, dan tubuhnya terayun-ayun hebat ke depan dan ke belakang mengikuti ritme sodokan Kamil.
"Ahhhh... ahhhh... ahhhhh... Kamilhhh... dalem bangettt... ahhhh..." Rintihan binal Rani keluar tanpa jeda, ludah menetes tipis dari sudut bibirnya yang mengerang nikmat.
Melihat pemandangan luar biasa erotis dan vulgar ini tepat di depan mataku, darah mudaku kembali mendidih. Rasa lelah pasca ejakulasi seketika menguap. Kejantananku yang tadi sudah lemas tertidur, perlahan tapi pasti mulai membesar kembali. Urat-uratnya bermunculan, dan dalam hitungan detik, senjataku kembali berdiri tegak lurus menantang wajah Rani.
Melihat reaksiku, sebuah ide gila merasuki kepalaku. Aku bangkit duduk, menggeser tubuhku sedikit ke depan, lalu mengangsurkan kejantananku yang tegak lurus itu tepat ke depan bibir Rani yang sedang mendesah.
Tanpa perlu disuruh, bidadari binal itu langsung menyambar senjataku. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menelan kejantananku dalam-dalam.
Gila! Benar-benar gila! Pemandangan ini menghancurkan seluruh sisa kewarasanku. Kini, kedua "lubang" bidadari itu telah terisi penuh. Di bagian bawah, kewanitaannya sedang digenjot habis-habisan oleh Kamil dengan gaya doggy style yang brutal. Di bagian atas, rongga mulutnya disumpal penuh oleh kejantananku yang berkedut panas.
"Slurrrppp... crok... crok..." Suara hisapan basah dari mulut Rani berpadu dengan suara tamparan daging dari arah belakang.
Kejantananku dikulum, disedot, dan dijilat oleh lidah hangat Rani. Namun, karena gempuran Kamil dari arah belakang terlalu kencang dan kasar, kepala Rani ikut terombang-ambing. Hal ini membuat Rani tidak bisa berkonsentrasi penuh dalam memberikan servis oral kepadaku. Setiap kali pinggul Kamil menghantam bokongnya, gigi Rani tanpa sengaja sedikit menggesek pangkal senjataku. Terkadang, Rani harus melepaskan kulumannya untuk berteriak nikmat, lalu ia menggantinya dengan kocokan tangannya yang cepat.
Malah semakin lama, saat entotan Kamil mencapai fase beringas, Rani benar-benar kewalahan. Ia hanya memegangi pangkal kejantananku dengan tangannya yang berkeringat, sementara wajahnya terdorong maju-mundur. Alhasil, senjataku hanya bergesekan kasar dengan pipi mulusnya yang panas oleh keringat.
Menyadari bahwa Rani kesulitan meladeni dua monster sekaligus, ego remajaku mengalah. Aku tidak ingin memaksanya. Aku mencabut kejantananku dari pipinya, turun dari ranjang, dan berjalan menuju kursi belajar yang tadi diduduki Kamil. Aku duduk bertelanjang bulat di sana, menyilangkan kaki, dan berubah menjadi penonton eksklusif persetubuhan mereka yang semakin membakar ruangan.
Waktu terasa berhenti di kamar kost yang pengap oleh kabut gairah itu. Sekitar 10 menit berlalu tanpa henti. Kamil memompa tubuh Rani seperti mesin diesel. Ranjang berderit kencang. Keringat mereka membanjiri kasur.
Sepertinya mereka berdua akan mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Genjotan pinggul Kamil menjadi sangat cepat dan kalap, sementara rintihan Rani berubah menjadi jeritan tertahan yang melengking tinggi di udara.
Tiba-tiba, Kamil mengerang parau, napasnya memburu cepat. "Rannn... anjing, gue udah... mau... nyampeeekkk!!!" geram Kamil dengan suara serak.
Mendengar sinyal itu, naluri jalang Rani bereaksi. Alih-alih menghindar, Rani justru memutar-mutar bokongnya dengan putaran cepat, menekan pinggulnya ke belakang menyongsong setiap dorongan Kamil, mengejar kenikmatan puncak yang sangat ia dambakan.
BAM!
Dengan satu hentakan terakhir yang luar biasa keras hingga tubuh Rani terdorong maju ke bantal, Kamil membenamkan senjatanya sedalam mungkin hingga menabrak ujung rahim Rani.
"AAAAAHHHHHH!!!"
Teriakan mereka berdua pecah berbarengan di udara kamar. Tubuh Rani mengejang sangat dahsyat. Wajahnya menengadah ke atas dengan mata terpejam erat dan alis berkerut kesakitan bercampur ekstasi murni. Mulutnya terbuka lebar, memekik "Aaaahh! Aaaahh! Aaaahh!" berkali-kali tanpa henti. Bokongnya terus menerus didorong-dorongkan ke belakang, menjepit pangkal paha Kamil dengan sangat kuat, seolah rahimnya yang lapar ingin menelan habis seluruh batang daging yang sedang memuntahkan lahar di dalamnya.
Mereka berdua terkunci dalam orgasme yang luar biasa dahsyat. Tubuh mereka bergetar hebat selama hampir 15 detik penuh. Cairan benih Kamil disemburkan bertubi-tubi ke bagian terdalam pacar sahabatnya itu.
Setelah badai kenikmatan itu surut, keduanya ambruk bertindihan. Kamil mencabut senjatanya dengan napas terengah-engah, meninggalkan lubang kewanitaan Rani yang memerah dan berlepotan cairan putih. Pria Jakarta itu langsung berbaring telentang di kasur di samping Rani yang masih terkapar tengkurap. Dada mereka naik turun dengan sangat cepat, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Rani perlahan memutar badannya yang lemas, mengubah posisinya menjadi telentang, kedua pahanya masih terbuka lebar, memamerkan "karya" Kamil yang mengalir turun ke seprai.
Mereka berdua tampak sangat kelelahan akibat orgasme yang menguras tenaga itu. Tak butuh waktu lama, dengkuran halus mulai terdengar dari hidung Kamil.
Aku yang duduk di kursi, menatap pemandangan itu dengan napas berat. Bangsat, batinku. Gairahku yang tadi terputus di tengah jalan kini kembali bergejolak. Aku merasa "nanggung". Kejantananku kembali mengacung kaku, berdenyut-denyut meminta diselesaikan.
Masa bodoh dengan Rani yang sedang kelelahan. Gairah perjakaku yang baru saja mencicipi surga masih butuh pelampiasan.
Aku bangkit dari kursi, melangkah mendekati ranjang. Aku memanjat naik ke atas kasur, mengambil posisi berlutut di antara kedua paha Rani yang ternganga. Aku menatap pusat kewanitaan Rani yang bengkak dan memerah, dipenuhi sisa-sisa cairan putih kental milik Kamil. Jujur saja, pemandangan cairan pria lain di sana sedikit membuatku risih.
Aku meraih kaus oblong Kamil yang tergeletak di lantai, lalu menggunakannya untuk mengelap bersih cairan putih itu dari bibir vagina Rani. Sambil mengelap, aku memperhatikan wajah Rani. Mata wanita itu tertutup rapat, napasnya teratur. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar tertidur pulas atau hanya berpura-pura, karena saat kain kaus itu menggesek titik sensitifnya, ia tidak bereaksi sedikit pun.
Setelah yakin kewanitaannya cukup kering dari cairan Kamil, aku memajukan pinggulku. Pelan-pelan, aku menusukkan ujung kejantananku ke bibir dagingnya yang masih basah oleh sisa pelumas alami.
Ternyata, bidadari ini tidak tidur!
Meskipun matanya masih terpejam rapat, aku bisa melihat ia menggigit bibir bawahnya menahan sensasi gesekan. Aku tersenyum nakal. Aku mencondongkan tubuhku ke depan dan mengecup bibir ranumnya tepat saat seluruh batang kejantananku melesak masuk ke dalam tubuhnya hingga pangkal.
Rani membuka mata porselennya yang sayu. Ia menatapku dengan tatapan merajuk yang dibuat-buat. "Kamu tuh ya... main masukin barang aja tanpa minta izin dulu," bisiknya manja.
"Habisnya aku masih penasaran dan nanggung sih, Mba..." bisikku balik sambil mencium pipi dan lehernya dengan gemas.
Rani merespons dengan membalas ciumanku. Lidah kami kembali berbelit dalam pagutan yang sangat mesra dan dalam. Kami berciuman cukup lama dalam keheningan kamar, sampai akhirnya ia melepaskan pagutan itu dengan senyum tipis.
"Digoyang dong, A'..." pintanya berbisik binal.
Permintaan itu adalah izin mutlak. Aku pun mulai menarik pinggulku ke belakang, lalu menaik-turunkan panggulku dengan irama yang pelan dan lembut.
Rani ini sungguh wanita yang luar biasa. Entah terbuat dari apa staminanya. Setelah disetubuhi secara brutal berkali-kali oleh Kamil dan mulutnya dipakai olehku, ia masih bisa merespons gerakanku dengan sangat agresif. Ia melingkarkan kedua paha putihnya yang mulus ke pinggangku, menjepitku erat-erat. Lalu, ia mulai menggoyangkan bokongnya ke atas menyongsong setiap tusukanku.
Awalnya aku mengayuh dengan pelan, sekadar menikmati gesekan hangat daging yang membelai senjataku. Namun, seiring dengan gesekan yang terus berlanjut, rasa nikmat yang menjalar di ujung sarafku semakin tak tertahankan. Kenikmatan itu seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tulang belakangku, memaksaku untuk meningkatkan tempo kayuhan panggulku.
Plok... plok... plok...
Tubuh kami berbenturan ringan. Aku semakin cepat menggenjotnya. Menyadari kecepatanku bertambah, Rani pun merubah goyangannya menjadi semakin erotis. Pinggulnya memutar, menjepit, dan memeras seluruh panjang senjataku dari dalam.
Gusti... nikmatnya bener-benar edan!
Meski jepitan vagina Rani begitu maut dan menyedot akal sehatku, kali ini aku bertekad kuat untuk menahannya. Aku tidak ingin memuncratkan spermaku di luar seperti tadi. Aku ingin mengeluarkan seluruh lahar suciku di dalam rahim Rani, mengukir sejarah hilangnya keperjakaanku secara paripurna di kedalaman tubuh wanita ini.
Demikianlah pacuan kenikmatan gila itu berlangsung. Kontolku bergerak maju-mundur dengan kecepatan tinggi, diimbangi oleh goyangan "dangdut" maut dari pantat Rani. Kami berdua sepenuhnya tenggelam dalam lautan nafsu, tidak peduli lagi dengan dengkuran Kamil yang tidur pulas tepat di samping kami, dan mengabaikan fakta bahwa orang tua Rashid sedang tidur di kamar sebelah yang hanya dibatasi satu lapis dinding bata.
Rintihan-rintihan birahi kembali lolos dari bibir Rani. "Ahhh... ahhh... Ariii... enak bangettt... terus, Ri... ahhh!"
Saking nikmatnya, Rani mulai mengambil alih kendali. Tangannya meraih ke bawah, memegang kedua bongkah pantatku dengan erat. Ia menarik pantatku secara ritmis, mengatur sudut dan kedalaman tusukanku agar ujung senjataku bergesekan tepat dengan G-spot-nya sebuah area di dalam dinding vaginanya yang terasa sedikit lebih menonjol dan kasar saat senjataku melaluinya.
Gesekan di titik itu rupanya memberikan efek mematikan. Bukan hanya Rani yang mengerang kesetanan, kepalaku juga serasa meledak menahan rangsangan yang teramat pekat di ujung kejantananku.
"Eunnggghhh... Mba... aing geus teu kuat yeuh... (aku udah gak kuat nih...)" rintihku dengan gigi terkatup rapat, napasku memburu cepat. Keringatku menetes membasahi wajah Rani.
Karena merasa bendungan pertahananku akan segera jebol, aku menghentakkan pinggulku dengan sodokan-sodokan brutal dan sangat cepat. Plak! Plak! Plak! Keputusanku untuk mempercepat sodokan ternyata menjadi katalis bagi Rani untuk menggapai puncak kenikmatannya sendiri.
Rintihan Rani berubah menjadi jeritan tertahan yang semakin keras dan beruntun, pertanda orgasmenya sudah berada di ujung tebing.
Akhirnya, detik yang ditunggu-tunggu itu tiba.
"AAAAAHHHHH....!!!!" Rani berteriak keras. Tubuhnya melengkung kaku ke atas bak busur panah. Ia memeluk punggungku dengan sangat erat, kuku-kukunya menancap di dagingku. Ia menempelkan seluruh permukaan dadanya ke dadaku dengan ketat. Kakinya menjepit pinggangku sekuat tenaga, mengunciku agar tak bisa kabur.
Di saat yang sama, aku merasakan dinding vaginanya berkedut dan berkontraksi dengan sangat kasar. Daging hangat itu menjepit, meremas, dan menyedot senjataku dengan pusaran yang luar biasa kuat dan memabukkan.
Kedutan vagina Rani yang menggila itu adalah pukulan knockout bagi senjataku. Aku tak mampu lagi menahannya.
"Mmmphhh! KELUAAAAARRRR!"
Bersamaan dengan remasan kuat dari dinding rahimnya, kejantananku meletus. Aku memuntahkan seluruh cairan spermaku yang kental dan panas jauh ke dalam dasar rahim pacar temanku itu.
Tumpahan lahar panas dari senjataku, berpadu dengan kedutan vagina Rani yang sedang orgasme parah, menciptakan sebuah sensasi kenikmatan ganda yang benar-benar tak pernah terbayangkan oleh akal sehatku. Nikmatnya bukan alang kepalang!
Saking nikmatnya, rasanya jiwaku seperti direnggut paksa dan dilemparkan ke sebuah jurang tanpa dasar. Pandangan mataku menghitam sejenak, namun di dalam kegelapan itu, setiap kali sarafku berkedut, aku seperti melihat kilatan cahaya putih yang meledak-ledak. Benar-benar sebuah ektasi surgawi yang mematikan.
Rentetan ledakan kenikmatan itu berlangsung cukup lama. Perlahan, badai orgasme itu mereda, meninggalkanku dalam kondisi teler, lunglai, dan kehabisan oksigen. Menyempurnakan hilangnya keperjakaanku malam itu.
Tubuhku ambruk begitu saja di atas dada Rani. Napasku tersengal-sengal meniup telinganya. Aku menoleh sedikit dan mencium bibirnya yang masih basah oleh keringat dan desahan dengan sangat mesra.
"Makasih ya, Mba..." bisikku jujur, suaraku nyaris tak terdengar.
Rani yang juga sama-sama kelelahan hanya tersenyum tipis dengan mata setengah tertutup, lalu membalas ciumanku sekilas.
Di dalam lubuk hatiku, aku tahu aku juga harus berterima kasih pada Kamil, si iblis otak mesum yang telah mengatur setting sempurna ini. Tapi saat kulihat pria itu, ia masih mendengkur pulas memeluk guling, seolah dunia di sekitarnya tidak sedang kiamat oleh badai nafsu.
Setelah detak jantung kami mulai normal, aku perlahan mencabut senjataku yang mulai layu. Plop. Terdengar suara basah saat senjataku keluar. Tumpukan sperma campur aduk milikku dan (mungkin sisa) Kamil langsung meluber keluar dari celah kewanitaannya, mengalir deras melewati rekahan paha dan bokong porselennya, mengotori seprai Kamil.
Aku memutar tubuhku, berbaring telentang di samping Rani dengan tubuh seringan kapas. Melirik jam dinding di kamar Kamil, waktu menunjukkan pukul 12.30 malam. Berarti, lebih dari satu jam aku berada di dalam kamar neraka ini. Kami berdua terdiam, hanya ditemani suara putaran kipas angin yang mencoba mengusir hawa panas tubuh kami. Karena saking lelahnya dihantam orgasme beruntun, tak butuh waktu lama kulihat dada Rani naik turun dengan teratur. Gadis porselen itu telah tertidur pulas tanpa busana.
Aku sendiri masih terjaga. Mataku menatap langit-langit kamar Kamil yang retak di beberapa bagian. Pikiranku memutar ulang kembali setiap detik dari malam yang luar biasa gila ini. Pengkhianatan, nafsu, dan keliaran yang tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidup.
ns216.73.216.133da2

will be deducted