Kawasan Bukit Shafa pagi itu diselimuti kabut tipis yang menusuk tulang. Di sinilah letak salah satu perguruan tinggi Islam paling elit di kota pelajar. Bagi Azzam, menginjakkan kaki di kampus ini adalah sebuah pencapaian besar. Berasal dari keluarga sederhana di tanah Sumatera, Azzam sadar diri. Ia menyewa sebuah kamar kos kecil yang murah di pinggiran kompleks perumahan dosen, bertekad mencari pekerjaan sampingan demi menyambung hidup.
Pagi itu, saat Azzam mengikat tali sepatunya bersiap menuju kampus, pandangannya tertahan pada sebuah pemandangan di seberang jalan.
Dari balik gerbang sebuah rumah mewah berarsitektur minimalis, keluarlah sesosok bidadari dunia. Sang akhwat mengenakan gamis sutra hitam pekat yang menjuntai menyapu tanah, dipadukan dengan khimar lebar dan niqab (cadar) Yaman yang menutupi separuh wajahnya. Namun, kain hitam itu gagal menyembunyikan keindahan sepasang mata almond yang dibingkai eyeliner tegas di balik kacamata tipisnya.
Sang akhwat tampak panik. Ia berusaha men-starter motor matic-nya yang mogok. Tenaga perempuannya terlihat kepayahan saat mencoba menggunakan standar tengah. Melihat itu, naluri laki-laki Azzam bergerak lebih cepat dari logikanya.
"Afwan, Ukh... butuh bantuan?" sapa Azzam lembut, menjaga jarak sopan.
Sang akhwat tersentak halus. Matanya yang indah menatap Azzam sesaat, lalu ia menundukkan pandangannya, menjaga ghadhul basar. Ia mengangguk pelan, melangkah mundur.
Dengan sigap, Azzam mengambil alih. Tangannya yang berotot menarik motor itu hingga standar tengahnya terpasang kokoh. Namun, di tengah kepanikan itu, kulit tangan Azzam tak sengaja bergesekan dengan jemari sang akhwat. Azzam sempat menangkap kilatan kulit putih pualam dan kuku bersih berhias pacar kuku merah marun yang menyembul dari balik manset hitamnya, sebelum wanita itu menarik tangannya dengan kaget.
"Afwan, Ukh... sungguh tidak sengaja," ucap Azzam cepat.
Tanpa membuang waktu, Azzam mengengkol motor itu hingga mesinnya menderu halus. Sebelum wanita itu pergi berlalu, Azzam memberanikan diri.
"Nama ana Azzam. Kalau boleh tahu, ukhti siapa?"
Dari balik cadarnya, suara lembut yang menggetarkan kalbu itu terdengar. "Nama ana Zulaikha."
Perkenalan singkat itu mengalir. Zulaikha adalah mahasiswi Arsitektur, dan pagi ini ia terburu-buru untuk mengikuti rekrutmen Lembaga Dakwah Kampus (KAJIAN IKHWAN DAN AKHWAT KAMPUS). Zulaikha bahkan menyarankan Azzam untuk ikut mendaftar sebelum akhirnya ia melesat pergi, meninggalkan wangi parfum musk yang tertinggal di udara pagi, dan sebuah senyuman tak kasat mata yang membekas di hati sang pemuda.
Sore harinya, usai mendaftar di KAJIAN IKHWAN DAN AKHWAT KAMPUS dan melakukan jogging rutinnya, Azzam kembali melewati rumah mewah Zulaikha. Matanya menangkap selembar kertas di gerbang: Dibutuhkan Asisten Rumah Tangga Paruh Waktu (Ikhwan).
Tak membuang kesempatan, Azzam mengetuk gerbang. "Assalamualaikum..."
Pintu terbuka. Azzam tertegun. Berdiri di hadapannya adalah seorang wanita paruh baya yang kecantikannya seolah menolak tua. Kulitnya putih bersih, dibalut gamis elegan dan hijab syar'i. Wajahnya sangat mirip dengan artis ibu kota yang telah hijrah.
"Waalaikumsalam. Cari siapa, Dek?" sapanya ramah.
Azzam mengutarakan niatnya. Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Ummi Maryam itu langsung menerima Azzam. Gajinya sangat lumayan untuk mahasiswa perantauan, dengan tugas mengurus kebersihan rumah dan taman setiap sore. Mata Azzam yang menunduk diam-diam merekam siluet tubuh Ummi Maryam yang masih sangat terjaga keindahannya di balik pakaian longgarnya.
Keesokan harinya, keringat membasahi kaus Azzam saat ia mengepel lantai dan menata taman. Pekerjaan fisik ini semakin membentuk otot-otot di tubuhnya yang memang sudah atletis.
Saat ia sedang membersihkan ruang keluarga, sebuah suara deburan barang jatuh terdengar dari arah kamar Zulaikha, disusul rintihan tertahan.
"Innalillahi!"
Azzam bergegas menuju depan pintu kamar Zulaikha. "Afwan, Ukh! Ukhti tidak apa-apa?"
Dari dalam, suara Zulaikha terdengar menahan sakit. "Iya, Akhi... ana terpeleset saat membersihkan debu di atas lemari."
"Bisa ana bantu, Ukh?"
Hening sejenak. Di dalam sana, Zulaikha berperang dengan batinnya. Berada di dalam kamar bersama seorang ikhwan adalah hal terlarang. Namun tubuhnya terlalu sakit untuk berdiri. Akhirnya, rasa butuh mengalahkan rasa takutnya. "T-tunggu sebentar, Akhi. Ana pakai cadar dulu."
Saat pintu terbuka, Azzam melangkah masuk. Zulaikha sedang duduk di tepi ranjangnya. Ia mengenakan gamis rumahan berwarna navy gelap dan cadar bandana hitam. Tangan kirinya menopang tubuhnya ke belakang, sementara tangan kanannya memijat bahunya.
Posisi duduk yang membusung itu membuat kain gamisnya tertarik ke belakang, mencetak dengan sangat jelas dua gundukan bukit kembar di dadanya yang ternyata luar biasa penuh dan ranum. Azzam tanpa sadar menelan ludah. Ukuran itu terlalu besar untuk disembunyikan.
Di saat yang sama, kejantanan Azzam yang bersembunyi di balik sarung salatnya, merespons pemandangan itu secara instan. Darah mudanya mendidih, membuat pusakanya terbangun mengeras.
"Tolong, Akhi... kotak di atas lemari itu," tunjuk Zulaikha pelan.
Azzam mengambil kursi kecil dan menaikinya. Untuk menjangkau bagian atas lemari, pemuda itu harus berjinjit dan meluruskan seluruh tubuhnya. Postur itu membuat kain sarungnya tertarik ketat ke depan.
Dan di sanalah, tanpa bisa disembunyikan lagi, pusaka kejantanan Azzam yang berukuran sangat tidak lazim—mencapai dua puluh lima sentimeter—mengacung tajam bak tombak menantang kain sarungnya, mencetak siluet urat dan keperkasaan yang mengerikan.
Mata Zulaikha yang tadinya sendu, mendadak membulat sempurna.
Napas sang akhwat seketika tercekat di tenggorokan. Selama ini Zulaikha sangat menjaga dirinya dari maksiat, namun ia adalah wanita normal. Di masa pubernya, rasa penasaran pernah mengalahkannya untuk mengintip video terlarang di laptopnya. Namun, melihat keperkasaan nyata milik seorang pria bertubuh atletis tepat di depan matanya... efeknya miliaran kali lipat lebih memabukkan.
Azzam melirik dari sudut matanya. Ia menyadari tatapan Zulaikha terkunci pada selangkangannya. Alih-alih buru-buru turun, iblis di dada Azzam justru membisikkan keliaran. Ia melambatkan pekerjaannya, membiarkan sang bidadari menikmati tontonan dosa tersebut.
Napas Zulaikha mulai memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Sensasi berdebar yang tak wajar merayapi perut bagian bawahnya. Akal sehat dan ayat-ayat suci yang selama ini ia pelajari, perlahan menguap. Tangan kanannya yang tadi memijat bahu, tanpa sadar turun merayap, meremas lembut bukit kembarnya sendiri dari balik kain navy itu.
Desahan halus yang nyaris tak terdengar keluar dari balik cadar Zulaikha. Rasa taboo dari melakukan hal hina di depan seorang pria asing justru membakar syahwatnya menjadi kobaran api. Tangannya perlahan menyingkap gamisnya ke atas, mengekspos paha pualamnya yang putih bersih tanpa cela, hingga menyisakan pakaian dalam sutra berwarna merah muda yang kini telah basah oleh embun gairah.
Zulaikha memejamkan matanya, menyelipkan jari-jari lentiknya ke balik kain sutra itu, mencari titik klitorisnya dan mulai membelainya dengan ritme yang membuat tubuhnya menggeliat resah.
Azzam yang melihat pemandangan surgawi itu dari atas lemari, merasa kepalanya ingin meledak. Ia turun dari kursi dengan gerakan pelan, lalu beringsut duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Zulaikha.
"Ehm... sangat menginginkannya, Ukhti?" suara bariton Azzam memecah kesunyian, rendah dan sarat akan dominasi.
Zulaikha tersentak hebat. Matanya terbuka lebar. Ia buru-buru menarik gamisnya, menutupi pahanya, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya terbakar rasa malu yang luar biasa. Rahasianya yang paling kotor telah terbongkar.
"M-maafkan ana, Akhi... ana..." Zulaikha menangis, tubuhnya bergetar.
Azzam merangkul pundak sang akhwat dengan lembut, sebuah sentuhan pertama yang meruntuhkan benteng pertahanan Zulaikha.
"Jangan menangis, Zulaikha," bisik Azzam, suaranya menghanyutkan. "Syahwat adalah fitrah manusia. Ana pun memperhatikannya sejak tadi. Lihatlah... milik ana juga sakit menahan gairah melihat keindahanmu."
Zulaikha mencuri pandang melalui sudut matanya. Tombak di balik sarung itu masih berdiri angkuh, menantinya.
"Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya kita berdua, Zulaikha. Biarkan ana membantumu. Ana berjanji tidak akan ada yang tahu," rayu Azzam, tangan kirinya menangkup dagu Zulaikha, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya.
Perang batin di dada Zulaikha usai sudah. Dosa telah menang mutlak. Ia memejamkan mata, membiarkan wajah Azzam mendekat.
Bibir Azzam melahap bibir Zulaikha dari balik cadar hitamnya. Kain tipis itu basah oleh saliva gairah mereka. Tak puas dengan penghalang itu, Azzam menarik simpul cadar Zulaikha ke belakang.
Kain hitam itu jatuh, dan untuk pertama kalinya, mahakarya Tuhan itu terpampang nyata. Wajah Zulaikha luar biasa cantik, hidungnya bangir, dengan bibir mungil merona merah alami.
"Subhanallah... cantiknya dirimu, Zulaikha," puji Azzam, suaranya parau menahan nafsu.
Zulaikha tersipu, rona merah menghiasi pipinya. Sebelum ia sempat membalas, bibir Azzam kembali menerkamnya, kali ini penyatuan kulit dengan kulit. Lidah mereka saling berbelit, bertukar napas panas yang memabukkan.
Tangan Azzam bergerak cepat membuka ritsleting gamis sang bidadari. Kain navy itu luruh ke lantai, menyisakan balutan bra berukuran 36F yang nyaris tak sanggup menampung tumpahan dada Zulaikha, serta celana dalam merah mudanya. Kulitnya seputih salju, sangat kontras dengan tangan sawo matang Azzam yang kini meremas rakus kedua bukit kembar tersebut.
"Panggil ana Mas Azzam, Sayang," bisik pemuda itu di sela-sela ciumannya.
"M-Mas Azzam... uhh... buka punya Mas juga..." rengek Zulaikha binal, sisa-sisa rasa malunya telah mati dikubur syahwat.
Dengan tangan gemetar, Zulaikha menarik turun sarung Azzam. Senjata raksasa itu melompat keluar, memukul perut Azzam sendiri. Zulaikha terbelalak ngeri sekaligus takjub. Urat-urat tebal melingkar di batang yang sangat panjang dan tebal itu.
"Gede banget, Mass..." cicit Zulaikha, jari lentiknya membelai batang panas itu dari pangkal hingga ke ujung kemerahannya.
"Telanlah, Zulaikha. Sekalian belajar untuk bekal menikah nanti," goda Azzam nakal, menekan tengkuk sang akhwat.
Zulaikha menurut. Wanita yang selalu menjaga lisannya dari ghibah itu, kini membuka mulutnya lebar-lebar. Ia melahap kepala pusaka Azzam, membiarkan aroma maskulin memenuhi rongga mulutnya.
Sluuurrp... mmmhh... ckk... ckk...
Suara decakan basah menggema di kamar yang sunyi itu. Zulaikha menggunakan lidahnya, memutar dan menghisap keperkasaan Azzam bak seorang profesional, sementara tangannya yang lembut meremas sepasang telur di bawahnya.
"Ahhh... yaaa... pintar sekali mulut sucimu ini, Sayang..." erang Azzam, jari-jarinya menjambak pelan rambut panjang Zulaikha yang kini tergerai bebas dari hijabnya.
Tak tahan dengan siksaan nikmat itu, Azzam menarik Zulaikha, mendorong bahunya hingga wanita itu telentang pasrah di atas ranjang. Azzam melucuti pakaian dalam Zulaikha. Mahkota kewanitaan yang bersih tanpa sehelai bulu pun, dengan kelopak berwarna merah muda yang basah kuyup, menanti untuk dipuja.
Azzam membenamkan wajahnya di sana. Lidahnya menyapu, menghisap, dan memberikan getaran mematikan pada titik klitoris Zulaikha.
"OOUUHH... MAAAS!! YAA ALLAAAH... AAHHH!!" Zulaikha menjerit tertahan, tubuhnya melengkung ke atas bagai busur panah. Jari-jarinya mencengkeram erat sprei kasurnya.
Jilatan Azzam semakin dalam, mengobrak-abrik inti kewanitaan yang belum pernah tersentuh itu. Zulaikha kehilangan akalnya. Ia menggelepar hebat, dan dalam hitungan detik...
"MASSS!! MAU PIPISSS!! AAAAAHHH!!"
Crrrttt!!
Tubuh Zulaikha mengejang kaku. Semburan squirting yang luar biasa deras memuncrat membasahi wajah Azzam dan sprei ranjangnya. Mahasiswi alim itu telah mencapai orgasme pertamanya yang sangat brutal dan melumpuhkan. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan.
Azzam mengangkat wajahnya yang berkilat oleh madu sang bidadari. Ia memosisikan ujung senjatanya tepat di depan gerbang mahkota Zulaikha. Tanpa aba-aba, ia menekan pinggulnya masuk.
"AKKHH!! Sakiitt Mas!! Pelan... robekk..." Zulaikha memekik, matanya terpejam menahan rasa perih saat benda raksasa itu memaksa melebarkan jalan sucinya.
Azzam menghentikan gerakannya sejenak, mengecup bibir Zulaikha, memberinya waktu. Saat ketegangan otot Zulaikha mulai mengendur, Azzam kembali memberikan dorongan bertenaga. Sesuatu di dalam sana robek. Darah perawan mengalir kecil, menandai runtuhnya kesucian sang bidadari Bukit Shafa.
"Udah nggak sakit, Sayang?" bisik Azzam, saat seluruh pusakanya telah tenggelam di dasar rahim Zulaikha.
"Mmmhh... sesak banget di dalam, Mas... tapi enak... sodok Zulaikha, Mas... ahhh..." racau Zulaikha.
Azzam mulai memompa. Dari ritme lambat yang mendayu, hingga berubah menjadi hentakan buas bak binatang kelaparan. Kamar itu menjadi saksi bisu perpaduan dua raga yang mabuk dalam dosa. Desahan Zulaikha semakin keras, menggema tak terkendali saat ia meraih klimaks kedua, ketiga, hingga tubuhnya benar-benar lemas tak bertulang. Ranjang mereka basah kuyup oleh peluh dan lautan cairan surgawi.
"Zulaikha... Mas keluar di dalam ya?" geram Azzam, napasnya memburu parah.
"Iyaaa Mass... penuhin rahimku!! AAAAAHHH!!"
Azzam membenamkan dorongan terakhirnya hingga mentok ke dasar rahim. Dengan raungan panjang, pemuda itu memuntahkan lahar panasnya yang kental dan melimpah, menyemprot bertubi-tubi mengisi perut Zulaikha hingga meluber ke luar, bercampur dengan darah kesuciannya. Keduanya ambruk, saling berpelukan erat dalam kelelahan yang luar biasa memabukkan.
Pergumulan itu berlanjut hingga senja menyapa, menuntaskan dahaga dua anak manusia yang tersesat dalam nikmatnya maksiat.
Malam harinya, di kamar kosnya yang sempit, Azzam tersenyum menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk.
Zulaikha: Makasih ya Mas... rasanya berdosa banget, tapi aku nagih... (tertawa malu).
Azzam: Jadi, mau bertaubat atau mau mengulanginya lagi besok, Sayang?
Zulaikha: Kita lihat besok ya, Imamku. Bobo dulu, Mas. Assalamualaikum... (cium).
Azzam meletakkan ponselnya di atas dada, menutup mata dengan senyum kemenangan.
Namun, baik Azzam maupun Zulaikha tidak pernah menyadari, bahwa di sudut ventilasi kamar sang akhwat, sebuah lensa kamera kecil menyala berkedip sedari tadi sore. Rekaman dosa mereka telah dikunci, dan sebuah takdir yang jauh lebih gelap serta manipulatif baru saja dimulai di kota pelajar ini.
Bersambung...
ns216.73.216.75da2

will be deducted