"Seragam cokelatmu adalah lambang kehormatan bangsa, jangan dinodai oleh nafsu sesaat yang merusak nama baik keluarga."
Prequel 1:
Kisah bermula di sebuah komplek perumahan dinas yang sepi saat jam kerja, namun penuh dengan interaksi sosial di sore hari. Cerita ini menyoroti kedekatan antar-tetangga yang juga merupakan rekan kerja satu instansi. Berawal dari rutinitas sederhana seperti pulang bersama, saling menitipkan dokumen, hingga obrolan santai di teras rumah saat pasangan masing-masing sedang dinas luar kota. Batasan profesional yang perlahan mengabur di luar jam kantor ini menjadi ujian berat bagi komitmen pernikahan mereka di tengah lingkungan yang saling mengawasi.
“Duduk di pangkuanku!” Perintah Pak Sutejo sambil menepuk kakinya. Kayla sempat ragu-ragu untuk sesaat, dia sangat sadar bahwa dirinya saat ini sedang telanjang tanpa sehelai benangpun di depan seorang pria yang bukan suaminya sendiri. Orang itu kini menghendaki tubuh indah Kayla duduk di pangkuannya. Kayla hanya bisa mendesah penuh kepasrahan. Air matanya kembali menetes.
Tak berapa lama setelah duduk di pangkuan Pak Sutejo, tangan jahil pria tua itu mulai meraba-raba tubuh indahnya. Lama kelamaan, api yang tadinya padam mulai menyala lagi. Kali ini Pak Sutejo ingin mengeluarkan pejuh di mulut Kayla. Istri Hendra itu memang sangat jarang melakukan oral seks atau fellatio pada suaminya sendiri karena terlalu alim. Sekali dua kali dilakukannya dengan terpaksa. Kayla selalu menganggap hal itu kotor dan menjijikkan. Hanya pemain film porno yang pernah melakukannya.
“Aku tidak mau melakukannya.” Kata Kayla bersikukuh.
Prequel 2:
Berlatar belakang kegiatan gathering atau studi banding akhir tahun di sebuah resort terpencil. Jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kantor dan tekanan birokrasi, suasana liburan yang santai membuka ruang bagi suasana hati yang berbeda. Di bawah pengaruh hawa dingin pegunungan, acara api unggun, dan obrolan larut malam, dua rekan kerja yang selama ini memendam kagum mulai kehilangan kendali atas batasan diri. Momen kebersamaan yang awalnya bertujuan untuk mempererat kerja sama tim, justru berubah menjadi ujian moral yang mengancam karier mereka.
Tanpa menunggu persetujuan Hannah, Bara yang sudah melepas celana kolornya berusaha melolosi celana dalam putih yang menutupi kemaluan yang ditumbuhi semak hitam. Hannah hanya bisa pasrah ketika kakinya semakin terbuka, mengangkang, menyambut hujaman batang milik suami tercinta,
“Uuuummhhhh... milikmu masih yang terbaik sayaaaang...,” dengusnya saat batang itu memenuhi rongga yang semakin basah. beberapa saat Bara menggoyangkan pantatnya dengan pelan.
“Lalu, apakah bibirnya berhasil mencicipi dua payudaramu ini?” Tanya Bara dengan suara bergemuruh.
“Oooohhh... tidak sayaaang... diaa justru memaksa bibirku untuk menerima penisnya, yang entah sejak kapan sudah terpampang di depan wajahku, dengan sedikit ancaman akan membatalkan izin cuti untukku, dan lagi-lagi dia berhasil mendapatkan yang diinginkannya, memasukkan penis hitam ituuu,, ke dalam mulutkuuuu,”
Suara Hannah terengah-engah, disatu sisi dirinya harus jujur dan menceritakan semua yang telah terjadi, di sisi lain vaginanya yang terus mendapat hujaman-hujaman keras dari batang Bara memberikan stimulan kenikmatan ke otaknya, membuatnya tak mampu lagi menyortir apa dan bagian mana dari pengalaman gilanya yang harus disembunyikan.
“Apakah miliknya panjang dan sebesar milikku?” keegoan sebagai seorang lelaki muncul dihati. Bara semakin cepat mengobok-obok vagina yang menganga pasrah.
Prequel 3:
Mengambil latar di sebuah sekolah negeri saat sore hari, ketika murid-murid telah pulang dan menyisakan beberapa guru yang harus menyelesaikan administrasi rapor dan sertifikasi. Seringnya menghabiskan waktu lembur berdua di ruang guru yang sepi melahirkan kenyamanan yang salah di antara dua pendidik yang dihormati. Sebagai sosok yang digugu dan ditiru, mereka menghadapi konflik batin yang hebat antara mempertahankan citra teladan di depan para siswa atau menyerah pada getaran terlarang yang tumbuh di antara meja kerja mereka.
Rupanya semenjak perkosaan tempo hari tersebut Salsabela benar-benar berubah. Ia kini menjadi gadis yang haus akan kenikmatan. Tak jarang ia menggunakan jepitan vaginanya untuk menebus nilai-nilai pelajaran dari para guru laki-laki di sekolah tersebut.
“Gila lu Bel…kuat banget dientot…masih semangat aja…” Ardiansyah mengomentari tingkah laku Salsabela.
“Ayo…hajar terus bray..” Anto menimpali memberi semangat kepada teman-temannya.
Namun ketika sedang asik-asiknya mereka dikagetkan oleh suara ketukan pintu yang teramat nyaring. Dengan serempak, Humam, Maul dan Vidi menghentikan kegiatannya menyetubuhi Salsabela.
“Sssiapa itu man…liat gih..” Bisik Humam kepada Ardiansyah.
ns216.73.216.67da2

will be deducted