“Pantes aja Pak Walikota cuma maunya sama Mbak Tia. Cakep, anggun lagi. Bener-bener high class. Saya aja jadi minder ngelihat Mbak.”
Andai pikiran Tia masih normal, mungkin dia akan berusaha mengelak begitu tahu arah kata-kata Mang Enjup. Tapi tidak… Tia yang sekarang bukan lagi Tia yang polos, malu-malu, dan konservatif.
Sejak Citra mengubah penampilannya, Mang Enjup dan Dr Lorencia mengacak-acak pandangannya, dan berbagai pengalaman berpetualang dilaluinya, kepribadian Tia berubah. Dia tak lagi merasa perlu membatasi dirinya dengan hanya menyerahkan tubuhnya kepada suaminya yang sah. Dia sudah tahu bahwa kenikmatan badan bisa didapat dari mana saja, dan buat dia itu tak salah. Dia tetap seorang istri, tapi dia tak ubahnya seorang pelacur juga. Dia tak lagi sungkan berhubungan seks dengan semua orang. Jana yang berposisi di belakang Tia kini menyandarkan mukanya ke bahu Tia, menghirup wangi rambut Tia dan meremas payudara Tia. Tia mendesah sebagai reaksi gerakan Jana itu. Febby tetap duduk di atas meja, sementara Mang Enjup juga tetap duduk di kursinya tanpa merapikan pakaiannya.
“Makanya… Tolong yah, Neng?” pinta Mang Enjup.
Tia tak bisa konsentrasi karena digerayangi terus oleh Jana.
Mang Enjup menyambung, “Peran seperti ini cuma Neng yang bisa.”
Tia berpikir sebentar, wajahnya berkerut, tapi dengan cepat dia mencapai kesimpulan.
“Iya, Mang. Tia siap.”
Mang Enjup tersenyum lebar. Jana bertepuk tangan.
Tia tersenyum nakal. “Omong-omong, Mang lagi ngapain sih, kok telanjang?” tanyanya.
Mang Enjup tertawa mendengar Tia bicara seperti itu, tak sungkan dan tak malu-malu.
“Ini Mang lagi terapi, hehehe,” kata Mang Enjup. “Dibantuin Jana…”
“Terapi kejantanan, …hihihi,” Jana menimpali. “Mbak Tia mau ikutan?”
“Boleh juga,” tanpa diduga Tia setuju, “Hitung-hitung latihan… Ih si Mang udah tegang gitu…”
Tia mendekat ke arah Mang Enjup. Melihat itu, Febby dan Jana juga bergerak, sehingga Mang Enjup kini dikelilingi tiga perempuan cantik. Seperti raja dengan selir-selirnya saja.Tidak seperti sebelumnya, kali ini Tia dengan sadar siap menyerahkan diri dan menggoda Mang Enjup, laki-laki tua pembantu orangtuanya yang sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil itu. Sebenarnya sejak ditinggal Bram, Tia agak frustrasi karena kebutuhan seksnya tidak ada yang melayani. Makanya ketika dia digarap Dr Loren dan Danang-Reja beberapa hari lalu, sebenarnya dia melayani dengan suka rela, asalkan bisa mengecap kenikmatan.
“Coba kita lihat hasil terapi tadi…” kata Jana, lalu tiba-tiba dia mendekati Tia dan kembali menggerayangi.
Febby terpikir untuk meramaikan suasana, jadi dia menuju laptopnya dan mulai memutar musik dance. Dia kemudian mendekati Tia dan Jana sambil bergoyang ikut irama. Jana juga ikut-ikutan, sambil menggerak-gerakkan tubuh Tia, mengajak Tia ikut dance. Tia terbawa juga, mulai meliuk-liukkan tubuhnya yang indah.
Mang Enjup jadi ngiler melihat tiga perempuan cantik bergoyang aduhai di depannya. Febby dan Jana bergerak luwes seperti sudah biasa ajojing. Jana apalagi, dia yang sejatinya bekerja jadi agen cewek panggilan dan penari tanggal baju setelah sebelumnya malang melintang di dua profesi itu, sudah kenyang pengalaman memikat hati dan tubuh laki-laki lewat goyang tubuhnya. Tia saja yang agak kaku.
“Mbak Tia cantik… Kita buka yah?” Jana bergoyang sambul memeluk Tia dari belakang, dan mengatakan itu sambil meraba tubuh Tia.
ns216.73.217.114da2

will be deducted