Namaku Bagas, seorang pemuda berusia sembilan belas tahun yang sedang menempuh kuliah semester tiga di jurusan teknik. Di antara semua teman, rumah Anita adalah tempat yang paling sering aku kunjungi. Anita adalah teman dekatku sejak SMA—baik hati, cerdas, dan selalu menyenangkan diajak berdiskusi tugas kuliah. Namun, akhir-akhir ini, ada daya tarik lain yang membuatku semakin betah datang ke rumahnya.
Sore itu, cuaca sangat panas. Aku tiba di rumah mereka yang cukup besar di kompleks perumahan mewah, dengan laptop dan catatan tugas di tangan. Begitu memasuki ruangan, aku langsung menyapa seperti biasa, “Anita, aku sudah datang!”
Dari arah dapur muncul seorang wanita yang langsung membuatku terpana. Itu Bu Nisa, ibu Anita yang berusia tiga puluh delapan tahun. Namun, penampilannya jauh lebih muda dan menggoda. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang sempurna. Payudaranya besar dan kencang, menonjol jelas di balik kaos oversized putih yang sedikit basah oleh keringat. Pinggangnya ramping, pinggulnya lebar, dan pantatnya bulat menggoda. Kulitnya putih mulus, rambut hitam panjangnya terikat asal, beberapa helai menempel di leher jenjangnya. Wajahnya cantik alami, dengan mata sipit yang genit, hidung mancung, serta bibir tebal yang merah alami.
“Bagas? Wah, kamu sudah datang. Anita tadi menelepon, katanya sedang antre di minimarket dekat kompleks. Katanya macet, mungkin butuh waktu dua puluh hingga tiga puluh menit lagi,” ujar Bu Nisa sambil tersenyum ramah. Senyumnya manis, tetapi ada kilatan nakal di matanya yang sulit kujelaskan.
Aku menggaruk kepala, berusaha bersikap biasa. “Tidak apa-apa, Bu. Saya tunggu di sini saja. Cuaca memang sangat panas hari ini.”
“Iya, ibu merasa gerah sekali. Baru saja selesai masak, badan ini sudah lengket,” katanya sambil mengipas-ngipas kaosnya pelan. Gerakan itu membuat payudaranya bergoyang lembut. Aku segera mengalihkan pandangan, berusaha mengendalikan diri.
Kami mengobrol ringan di ruang tamu. Bu Nisa bercerita tentang usaha butik online-nya dan kesepian yang dirasakannya sejak bercerai dua tahun lalu. Mantan suaminya selingkuh dengan sekretaris kantor. Suaranya lembut, namun ada nada pilu yang membuatku merasa kasihan sekaligus tertarik. Ia tertawa kecil saat aku bercanda tentang kuliah, dan tawa itu entah mengapa membuat dadaku berdegup lebih kencang.
“Bagas sudah besar dan kekar sekarang. Dulu kecil, tapi sekarang sudah seperti pria dewasa,” ucapnya sambil melirik tubuhku dari atas ke bawah. Pipiku terasa panas.
Tak lama kemudian, Bu Nisa pamit. “Ibu ke kamar dulu ya, mandi sebentar. Kalau Anita pulang, tolong beri tahu.”
Rumah menjadi sepi. Aku duduk gelisah di sofa sambil memainkan ponsel. Lima belas menit berlalu, Anita belum juga tiba. Aku merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Koridor menuju kamar mandi melewati tepat di depan kamar utama Bu Nisa.
Pintu kamarnya tidak tertutup rapat, hanya terbuka sekitar sepuluh sentimeter. Aku berniat melewatinya begitu saja, tetapi sebuah suara pelan membuat langkahku terhenti.
“Ahh… hmm… ya… seperti itu…”
Desahan lembut seorang wanita dewasa yang tertahan. Jantungku berdegup kencang. Dengan hati-hati, aku mendekat dan mengintip melalui celah pintu.
Pemandangan di dalam kamar membuat darahku mendidih seketika.
Bu Nisa telanjang bulat di atas kasur king size. Kakinya terbuka lebar, lutut ditekuk tinggi. Cahaya lampu kamar yang temaram menyinari tubuh montoknya yang basah oleh keringat. Payudaranya yang besar tergeletak indah, puting cokelatnya mengeras. Memeknya mulus dan sudah mengkilap basah. Tangan kanannya sibuk di antara selangkangan—dua jari masuk-keluar dengan ritme cepat, menimbulkan suara basah “slosh… slosh… slosh”. Tangan kirinya meremas payudara kanannya dengan kasar, memilin putingnya keras.
“Uhh… ahh… lebih dalam lagi…” desahnya panjang, kepala mendongak, bibir tergigit.
Ia kemudian mengambil dildo hitam besar dari laci nakas. Alat itu tebal, panjang, dan berurat seperti kontol asli. Bu Nisa melumurinya dengan cairan memeknya sendiri, lalu memasukkannya perlahan ke dalam lubang kewanitaannya yang sudah banjir.
“Anhh! Besar sekali… ahh, enak sekali…” erangnya saat dildo itu menghunjam hingga pangkal. Ia mulai memompa dengan cepat. Payudaranya bergoyang liar mengikuti gerakan pinggulnya yang naik-turun. Cairan bening terus keluar dari memeknya, membasahi sprei dan pahanya.
Aku tidak tahan lagi. Tangan kananku menyusup ke dalam celana pendek, memegang kontolku yang sudah ngaceng keras, urat-uratnya menonjol. Aku mengocoknya pelan sambil terus mengintip. Pemandangan Bu Nisa yang sedang colmek gila-gilaan ini terlalu menggairahkan. Seorang ibu rumah tangga yang cantik dan seksi, kini berubah menjadi wanita haus kontol.
“Kontol… aku butuh kontol muda yang besar dan tebal…” gumamnya. Lalu, dengan suara yang lebih jelas dan penuh nafsu, “Bagas… ahh… kontol Bagas… ngentot memek ibu… hancurkan memek ibu ini…”
Mendengar namaku disebut, kontolku berdenyut hebat. Aku mengocok semakin cepat, napasku tersengal-sengal. Di dalam kamar, Bu Nisa memompa dildonya semakin liar. Tubuhnya melengkung, payudaranya bergoyang seperti gelombang.
“Iya… di situ… ahh! Ahh!! Ibu mau keluar!!”
Tubuhnya mengejang hebat. Memeknya menyembur cairan squirt yang cukup deras, membasahi tangan, dildo, dan sprei. Ia terus memompa pelan sambil menikmati sisa orgasme panjangnya, desahan lembut dan erotis keluar dari bibirnya yang basah.
Aku hampir mencapai puncak. Dengan susah payah, aku menahan diri dan mundur pelan-pelan. Kakiku terasa lemas. Aku buru-buru ke kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin untuk menenangkan diri. Kontolku masih ngaceng keras, basah oleh precum.
Beberapa menit kemudian, aku kembali ke ruang tamu. Bu Nisa keluar dari kamar dengan kaos longgar dan celana pendek tipis. Wajahnya masih merona merah, rambutnya sedikit acak-acakan. Ia tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa pun.
“Bagas, maaf lama. Anita sudah dalam perjalanan. Mau minum es jeruk? Ibu buatkan sekarang,” katanya dengan suara yang masih sedikit serak.
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Sepanjang sore itu, saat Anita akhirnya tiba dan kami mengerjakan tugas, pikiranku terus melayang pada pemandangan di kamar tadi. Setiap kali Bu Nisa lewat membawa minuman atau camilan, bayangan tubuh telanjangnya yang sedang colmek sambil menyebut namaku membuat kontolku kembali berdenyut.
Malam harinya, setelah pulang ke kosan, aku langsung masuk ke kamar. Aku mengocok kontolku dengan liar sambil memutar ulang adegan itu di kepala. Aku mencapai klimaks dengan muncratan yang sangat deras. Namun, kepuasan itu hanya sebentar. Aku tahu, besok aku pasti akan kembali ke rumah itu lagi.
Dan kali ini, bukan hanya karena tugas kuliah.
Keesokan harinya, aku kembali ke rumah Anita dengan alasan yang sama—mengerjakan tugas kuliah. Padahal, yang sebenarnya kurasakan adalah dorongan kuat untuk bertemu Bu Nisa lagi. Sepanjang malam aku hampir tidak bisa tidur, bayangan tubuh telanjangnya yang sedang colmek sambil menyebut namaku terus menghantuiku. Kontolku sering ngaceng sendiri setiap kali mengingatnya.
Aku tiba sekitar pukul sepuluh pagi. Anita menyambutku di depan pintu dengan wajah ceria. “Kamu cepat sekali hari ini, Gas. Ayo masuk, aku sudah siapkan meja belajar.”
Baru saja aku duduk, Bu Nisa muncul dari arah kamar mandi. Ia baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih tipis yang melilit longgar dari dada hingga paha. Rambutnya masih basah, meneteskan air ke bahu dan lehernya. Handuk itu nyaris tidak mampu menutupi payudaranya yang besar; bagian atasnya terbuka lebar, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan menggoda. Aroma sabun mandi yang segar bercampur dengan wangi tubuhnya langsung memenuhi ruangan.
“Pagi, Bagas,” sapanya dengan suara lembut, tetapi ada nada genit yang jelas. Matanya menatapku intens, lalu turun ke bawah sebentar sebelum kembali ke wajahku. “Kamu datang lagi ya. Baguslah, Anita senang ada teman belajar.”
Anita tertawa kecil. “Ibu, handuknya longgar banget. Ganti baju dulu sana.”
Bu Nisa hanya tersenyum. “Iya-iya, sebentar lagi. Ibu masih gerah. Kalian belajar dulu, ibu ke kamar ambil baju.”
Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memandangi pantatnya yang bulat dan kencang di balik handuk tipis itu. Setiap langkah membuat handuk bergoyang, seolah sewaktu-waktu bisa melorot.
Anita kemudian meminta maaf. “Gas, aku lupa ada janji ke kampus sebentar untuk ambil buku referensi. Nggak lama, paling satu jam. Kamu tunggu di sini ya? Atau mau ikut?”
“Aku tunggu di sini saja,” jawabku cepat. Hati kecilku berdebar penuh harap.
Setelah Anita berangkat dengan motornya, rumah kembali sepi. Hanya ada aku dan Bu Nisa. Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi dari kamar—masih dengan handuk yang sama. Kali ini, handuk itu terlihat lebih longgar. Ia berjalan mendekatiku di sofa ruang tamu.
“Bagas sendirian ya sekarang?” tanyanya sambil duduk di sebelahku. Jaraknya cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma sabun dari kulitnya yang masih lembab.
“Iya, Bu. Anita pergi sebentar,” jawabku, suaraku sedikit gugup.
Bu Nisa tersenyum nakal. “Kamu kemarin melihat sesuatu ya di kamar ibu?”
Aku terkejut. Jantungku hampir copot. “Eh… apa maksud Bu?”
Ia tertawa pelan. “Jangan bohong. Ibu tahu pintu tidak tertutup rapat. Kamu ngintip ibu colmek, kan? Kontolmu pasti langsung ngaceng keras waktu itu.”
Wajahku memerah. Sebelum aku sempat menjawab, tangan Bu Nisa sudah merayap ke pangkuanku. Ia meraba kontolku yang memang sudah setengah ngaceng di balik celana pendek.
“Wah… sudah keras lagi,” bisiknya mesum. “Besarkan sekali. Ibu suka kontol muda yang tegang begini.”
Dengan gerakan cepat, ia menarik tali handuknya. Handuk putih itu melorot ke lantai, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sempurna. Payudaranya yang besar dan montok langsung bebas, putingnya sudah mengeras. Memeknya mulus dan sedikit basah.
Bu Nisa meraih pinggang celanaku, menurunkannya hingga kontolku melompat keluar—sudah ngaceng maksimal, kepala kontol merah dan mengkilap precum.
“Bagus sekali kontolmu, Bagas,” pujinya sambil memegang batangnya dengan tangan kanan. Ia mengocok pelan, naik-turun, ibu jarinya mengusap kepala kontol yang sensitif. “Tebal dan panjang. Ibu sudah lama tidak merasakan yang seperti ini.”
Aku mendesah keras. “Bu… ahh…”
Ia tersenyum puas. Kemudian, Bu Nisa berlutut di depanku. Ia menekan kedua payudaranya yang besar dan lembut ke kontolku. Payudara montok itu langsung membungkus batang kontolku sempurna. Kehangatan dan kelembutan kulitnya membuatku mengerang.
“Mainkan dengan payudara ibu, ya sayang,” bisiknya vulgar. Ia mulai menggerakkan tubuhnya naik-turun. Payudaranya bergoyang-goyang, memijat kontolku di antara belahan dada yang dalam. Sesekali ia menunduk, lidahnya menjilat ujung kontolku yang muncul di atas payudaranya.
“Enak ya, Bagas? Payudara ibu besar kan? Cocok untuk kontolmu yang tegang ini,” katanya sambil mempercepat gerakan. Aku meremas payudaranya yang lembut, membantu menekannya lebih rapat ke kontolku. Bunyi gesekan basah dan erotis memenuhi ruangan.
Bu Nisa semakin liar. Ia menjilat dan mengisap kepala kontolku setiap kali muncul, sambil terus melakukan titjob yang intens. Payudaranya yang basah oleh keringat dan air liurnya membuat gesekan semakin licin dan nikmat.
“Aku… aku nggak tahan lagi, Bu…” erangku.
“Keluar saja, sayang. Muncrat di payudara ibu. Kasih sperma panasmu ke ibu,” perintahnya mesum.
Dengan erangan keras, aku mencapai klimaks. Kontolku berdenyut hebat, menyemburkan muncratan sperma yang sangat deras. Jet demi jet menyembur ke payudaranya yang besar, mengenai leher, dagu, bahkan sedikit ke bibirnya. Bu Nisa terus memijat payudaranya di kontolku hingga akhirnya tetes terakhir keluar.
Ia tersenyum puas, mengoleskan spermaku ke payudaranya seperti lotion. Lalu ia menjilat sedikit yang mengenai bibirnya. “Enak rasanya. Sperma Kontol Bagas banyak sekali. Ibu suka.”
Aku masih terengah-engah, tubuh lemas karena orgasme yang begitu kuat. Bu Nisa bangkit, memakai handuknya lagi dengan santai, seolah baru saja melakukan hal biasa.
“Anita sebentar lagi pulang. Kamu bersihkan diri ya. Besok… kita lanjut lagi, kalau kamu mau,” katanya sambil mengedipkan mata.
Aku hanya bisa mengangguk. Nafsu di dalam diriku sudah menyala semakin besar. Aku tahu, ini baru permulaan.
ns216.73.217.110da2

will be deducted