Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tenang. Kejadian titjob panas di ruang tamu tadi pagi terus membayangi pikiranku. Setiap kali memejamkan mata, aku melihat payudara besar Bu Nisa yang membungkus kontolku, lidahnya yang menjilat ujung kontol, dan muncratanku yang menyembur deras ke dadanya. Kontolku sering kali ngaceng sendiri sepanjang sore dan malam.
Sekitar pukul sebelas malam, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor baru.
Bu Nisa: Bagas, Anita sudah tidur pulas di kamarnya. Kamu berani datang sekarang? Masuk lewat pintu belakang saja, ibu sudah membukanya. Ibu tunggu di kamar. Jangan membuat suara. Ibu butuh kamu malam ini.
Jantungku berdegup kencang. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera bangkit dari kasur kosan, mengenakan celana pendek dan kaos hitam, lalu meluncur ke rumah mereka dengan motor. Jalanan kompleks sudah sepi. Aku memarkir motor agak jauh dan menyelinap masuk melalui pintu belakang seperti yang diminta.
Rumah gelap, hanya ada cahaya temaram dari kamar Bu Nisa. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Aku mendorongnya pelan dan masuk. Bu Nisa berdiri di depan cermin dengan memakai kimono tipis berwarna merah maroon yang sangat seksi. Kimono itu hampir tembus pandang, memperlihatkan siluet tubuh montoknya.
Begitu melihatku, ia langsung mendekat dan memelukku erat. Tubuhnya hangat dan harum sabun mandi.
“Bagas… akhirnya kamu datang,” bisiknya di telingaku dengan suara serak penuh nafsu. “Ibu sudah basah sekali sejak tadi pagi memikirkan kontolmu. Ibu kesepian sekali, sayang. Sudah lama tidak merasakan sentuhan pria muda yang kuat seperti kamu.”
Kami langsung berciuman dengan liar. Lidah kami saling menari, saling menghisap, dan saling menjilat. Tangan Bu Nisa merayap ke celanaku, meremas kontolku yang sudah ngaceng keras dari tadi. Aku pun membalas dengan meremas payudaranya yang besar dan berat dari balik kimono, memilin putingnya yang sudah mengeras.
Ia menarikku ke kasur king size-nya. Kimono tipis itu melorot dengan mudah, memperlihatkan tubuh telanjang yang sempurna di bawah cahaya temaram. Payudaranya yang montok bergoyang lembut, memeknya sudah mengkilap basah.
Bu Nisa mendorongku berbaring, lalu merangkak di antara kakiku. “Ibu mau mencicipi kontol kesayangan ibu dulu,” katanya mesum.
Ia membuka mulutnya lebar dan langsung menelan kontolku hingga ke tenggorokan. Deepthroat yang luar biasa. Kepala kontolku menyentuh dinding tenggorokannya, tetapi ia tidak muntah. Mulutnya hangat, basah, dan sangat lihai. Ia mengisap kuat sambil kepalanya naik-turun dengan ritme sempurna. Lidahnya menjilat urat-urat kontolku, sesekali mengisap bola-bolaku.
“Anhh… Bu… enak sekali mulut ibu…” erangku sambil memegang rambutnya.
Bu Nisa semakin liar. Ia mengocok batang kontolku dengan tangan sambil mengisap kepalanya kuat-kuat. Air liurnya menetes ke mana-mana, membuat kontolku semakin licin. Aku hampir mencapai klimaks, tetapi ia berhenti tepat waktu dengan senyum nakal.
“Sekarang giliran kamu, sayang. Makan memek ibu yang sudah basah ini,” pintanya sambil berbaring dan membuka kakinya sangat lebar.
Aku menunduk di antara pahanya yang mulus. Aroma memeknya yang khas dan menggairahkan langsung memenuhi hidungku. Memeknya sudah banjir cairan bening. Aku menjilat bibir memeknya pelan dari bawah ke atas, lalu menghisap klitorisnya dengan lembut. Bu Nisa mendesah keras, pinggulnya terangkat.
“Ahh! Bagus… jilat lebih dalam… ya, seperti itu! Hisap klitoris ibu!”
Aku memasukkan lidahku ke dalam lubang memeknya, menjilat dinding-dinding dalamnya yang hangat dan berdenyut. Dua jariku ikut memompa di dalam sambil mulutku terus menghisap klitorisnya. Bu Nisa menggeliat hebat, tangannya menekan kepalaku lebih dalam ke memeknya.
“Ibu mau keluar… ahh! Ibu squirting!!”
Tubuhnya mengejang keras. Memeknya menyembur cairan hangat yang cukup deras ke wajah dan mulutku. Aku terus menjilat hingga gelombang orgasmenya reda.
Sekarang waktunya yang utama. Aku naik ke atas tubuhnya dan menggesekkan kepala kontolku di bibir memeknya yang basah.
“Masukkan, Bagas. Ngentot memek ibu sekarang. Ibu ingin merasakan kontolmu yang besar ini di dalam,” pintanya penuh nafsu, matanya berkabut karena gairah.
Aku mendorong pinggulku pelan. Kepala kontolku masuk, diikuti seluruh batangnya yang menghunjam dalam hingga pangkal. Memek Bu Nisa sangat sempit, hangat, dan berdenyut-denyut menyambut kontolku.
“Anhh! Besar sekali… kontolmu mengisi memek ibu penuh… ahh! Enak sekali!” erangnya panjang.
Aku mulai menggerakkan pinggul dengan ritme stabil. Posisi missionary pertama terasa luar biasa. Setiap hantaman dalam membuat payudaranya bergoyang indah. Kami berciuman liar sambil aku semakin cepat mengentotnya.
“Lebih dalam, sayang… hancurkan memek kesepian ibu ini!” jeritnya.
Kami berganti posisi. Aku membalik tubuhnya menjadi doggy style. Pantat bulat dan montoknya terangkat tinggi. Aku menghajar memeknya dari belakang dengan keras dan cepat. Bunyi “plak plak plak” memenuhi kamar sepi.
“Ya! Lebih keras, Bagas! Tampar pantat ibu! Ibu suka kasar seperti ini!” erangnya.
Aku menampar pantatnya beberapa kali sambil terus mengentot dalam-dalam. Bu Nisa orgasme lagi, memeknya mengencang hebat di sekitar kontolku.
Akhirnya, ia naik ke atasku dalam posisi cowgirl. Ia menggoyang pinggulnya liar, naik-turun dengan cepat dan kuat. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang indah di depan wajahku. Aku meremas dan mengisap putingnya bergantian.
“Aku mau keluar, Bu…” kataku terengah-engah.
“Di dalam saja! Creampie memek ibu! Isi penuh dengan sperma panasmu!” perintahnya mesum.
Dengan erangan keras, aku menyemburkan sperma panasku jauh ke dalam rahimnya. Jet demi jet yang sangat banyak. Bu Nisa orgasme bersamaku, tubuhnya gemetar hebat, memeknya menyedot kontolku dengan kuat.
Kami tidak berhenti hanya satu ronde. Setelah istirahat sebentar sambil berpelukan dan berciuman lembut, kami melanjutkan ronde kedua dengan lebih lambat tapi tetap intens. Aku mengentotnya dari samping, lalu kembali ke doggy. Bu Nisa terlihat sangat bahagia. Matanya berkaca-kaca saat ia berbisik, “Terima kasih, Bagas. Malam ini ibu merasa seperti wanita muda lagi. Kamu membuat ibu lupa kesepian yang sudah lama ibu rasakan.”
Sebelum fajar menyingsing, aku pulang diam-diam. Tubuhku lelah, tetapi hatiku penuh adrenalin. Aku tahu hubungan terlarang ini baru saja dimulai, dan aku sudah ketagihan sepenuhnya dengan Bu Nisa.
Pagi berikutnya, aku bangun dengan tubuh masih lelah tetapi penuh semangat. Malam tadi bersama Bu Nisa benar-benar luar biasa. Aku hampir tidak percaya bahwa aku baru saja mengentot ibu temanku sendiri dengan begitu liar. Sperma yang kucurahkan ke dalam memeknya seolah masih terasa hangat di kontolku.
Aku memutuskan untuk datang ke rumah mereka pagi-pagi sekali dengan alasan membantu Anita mengerjakan tugas yang belum selesai. Sebenarnya, aku hanya ingin bertemu Bu Nisa lagi. Begitu tiba, Anita masih tertidur pulas di kamarnya karena kelelahan semalam.
Bu Nisa sudah bangun lebih dulu. Ia sedang berada di dapur, memakai hanya kaos oversized longgar yang panjangnya sampai paha dan tanpa bra. Rambutnya diikat asal, dan aroma masakan telur dan kopi sudah menyebar. Payudaranya yang besar bergoyang lembut setiap kali ia bergerak.
“Bagas? Pagi sekali kamu datang,” katanya sambil tersenyum genit saat melihatku masuk ke dapur. “Anita masih tidur. Mau sarapan dulu?”
Aku mendekat dari belakang dan memeluknya erat. Kontolku yang sudah setengah ngaceng langsung menekan pantat bulatnya.
“Sarapan yang sebenarnya adalah ibu,” bisikku mesum di telinganya.
Bu Nisa mendesah pelan dan menggoyang pantatnya pelan, menggesek kontolku. “Kamu nakal sekali. Anita bisa bangun kapan saja. Tapi… ibu juga sudah basah lagi memikirkan kontolmu sejak semalam.”
Tangan kananku merayap ke bawah kaosnya. Memeknya memang sudah basah. Aku mengusap klitorisnya dengan jari sambil mencium lehernya. Bu Nisa menggigit bibirnya menahan desahan.
“Jangan berisik… tapi cepat, sayang,” pintanya dengan suara gemetar.
Aku menurunkan celana pendekku hingga kontolku melompat keluar, sudah ngaceng keras dan berdenyut. Aku menggesekkan kepala kontolku di celah memeknya dari belakang. Bu Nisa membungkuk di meja dapur, kedua tangannya memegang pinggiran meja.
Dengan satu dorongan kuat, aku menghunjam seluruh kontolku ke dalam memeknya yang basah dan hangat.
“Ahh! Besar sekali… kontolmu pagi ini terasa lebih keras,” erang Bu Nisa pelan tapi penuh nafsu.
Aku mulai mengentotnya dengan ritme cepat dan dalam. Posisi doggy standing di dapur membuat setiap hantaman terasa sangat kuat. Payudaranya yang besar bergoyang liar di balik kaos. Aku merogoh ke depan, meremas kedua payudaranya sambil terus menghajar memeknya.
“Plak… plak… plak…” bunyi hantaman pinggul kami bergema pelan di dapur. Bu Nisa menggoyang pantatnya ke belakang, menyambut setiap tusukan kontolku.
“Lebih cepat, Bagas… ngentot ibu lebih keras! Memek ibu ini milikmu sekarang,” desahnya mesum.
Aku mempercepat gerakan. Tangan kiriku memegang pinggulnya, tangan kananku mencubit putingnya. Memeknya semakin basah, cairannya menetes ke lantai dapur. Risiko Anita bangun dan keluar dari kamar membuat segalanya terasa semakin intens dan berbahaya.
Bu Nisa orgasme pertama dengan cepat. Tubuhnya mengejang, memeknya mengencang hebat di kontolku. “Ibu keluar… ahh!”
Aku tidak berhenti. Aku terus mengentotnya dengan ganas. Aku menarik kaosnya ke atas, memperlihatkan punggung dan pantatnya yang indah. Aku menampar pantatnya pelan tapi kuat beberapa kali.
“Enak ya, Bu? Kontol anak teman ibu yang ngentot memek ibu di dapur pagi-pagi begini?” tanyaku vulgar.
“Iya… enak sekali! Ibu suka dikentot anak muda… ahh! Lagi… jangan berhenti!”
Kami berganti posisi sedikit. Aku membalik tubuhnya menghadapku, mengangkat satu kakinya ke meja, lalu menghunjam lagi dalam posisi standing. Payudaranya yang besar tepat di depan wajahku. Aku mengisap putingnya kuat sambil terus mengentot.
Orgasme kedua Bu Nisa datang lebih hebat. Ia hampir menjerit, tapi ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Memeknya menyembur cairan hangat yang membasahi kontolku dan paha kami.
“Aku mau muncrat, Bu…” kataku terengah-engah.
“Di dalam! Creampie memek ibu lagi! Isi penuh seperti semalam!” perintahnya penuh nafsu.
Dengan dorongan terakhir yang sangat dalam, aku menyemburkan sperma panasku deras ke dalam rahimnya. Jet demi jet yang banyak sekali memenuhi memek Bu Nisa. Ia orgasme ketiga bersamaku, tubuhnya gemetar hebat di pelukanku.
Kami berpelukan sebentar di dapur, napas kami masih tersengal. Sperma yang meluber dari memeknya menetes ke lantai. Bu Nisa tersenyum puas sambil mencium bibirku lembut.
“Kamu semakin hebat, Bagas. Ibu sudah ketagihan. Cepat bersihkan diri sebelum Anita bangun,” bisiknya.
Aku membersihkan diri dengan cepat. Tak lama kemudian, Anita muncul dari kamar dengan wajah mengantuk. Ia tidak curiga sama sekali.
Sepanjang pagi itu, setiap kali Bu Nisa lewat di depanku, ia tersenyum nakal dan sesekali menggoyang pantatnya pelan. Aku tahu, quickie pagi ini hanyalah pemanasan untuk petualangan yang lebih panas ke depan.
ns216.73.217.110da2

will be deducted