Sinar matahari Minggu pagi membelai lembut permukiman Margahayu. Udara masih terasa segar, menyisakan embun di dedaunan setelah hujan semalam. Di taman kecil kompleks yang dikelilingi pepohonan rindang, Maya tengah meregangkan tubuhnya.
Sebagai seorang wanita yang sangat menjaga penampilannya, rutinitas lari pagi adalah sebuah kewajiban. Pagi itu, ia mengenakan celana legging hitam ketat yang mencetak sempurna lekuk pinggul dan kakinya yang jenjang, dipadu dengan sports bra berwarna abu-abu dan tank top putih tipis berbelahan kerah agak rendah. Keringat tipis yang membasahi dahi dan lehernya justru menambah aura keanggunan yang matang dari janda berusia tiga puluh satu tahun tersebut.
"Mbak Maya! Rajin banget sih pagi-pagi udah keringetan!"
Sebuah seruan riang membuat Maya menghentikan langkah kecilnya. Di salah satu bangku taman, tiga wanita yang sudah sangat ia kenal tengah duduk berkumpul. Laras (27) melambaikan tangan dengan ceria. Ia mengenakan setelan piyama modis bermotif bunga yang elegan. Di sebelahnya duduk Kania (28), memangku putra balitanya sambil menyuapkan bubur ayam dengan telaten, sementara Ranti (26) duduk agak di ujung, mendengarkan obrolan dengan senyum tipisnya yang sendu dan memesona.
Maya tersenyum lebar, mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil, lalu berjalan menghampiri mereka. "Biasa, Ras. Kalau nggak gerak, badan rasanya kaku semua. Kalian udah dari tadi?"
"Lumayan, Mbak. Ini sekalian nyuapin si Dede," jawab Kania lembut, mengusap mulut anaknya dengan tisu. "Sini Mbak, duduk dulu. Napasnya diatur."
Maya mengambil tempat di sebelah Ranti. Aroma parfum lembut Ranti menguar, berpadu dengan wangi sabun bayi dari anak Kania. Pagi itu, seperti biasa, obrolan mengalir ke segala arah. Dari membahas harga telur dan cabai yang merangkak naik, gosip perceraian selebriti di televisi, hingga keluhan-keluhan kecil tentang kehidupan rumah tangga.
"Iya, kemarin Mas Bayu pulang malam terus. Padahal keran air di dapur udah bocor dua hari, boro-boro mau benerin, disuruh ngecek aja alasannya capek," sungut Laras sambil memanyunkan bibirnya.
Mendengar keluhan Laras, sebuah ide terlintas di kepala Maya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat bayangan seorang pemuda berwajah teduh dan bertubuh tegap melintas di benaknya.
"Kalau suamimu sibuk, kenapa nggak minta tolong orang lain aja, Ras?" pancing Maya, menyandarkan punggungnya santai. "Kebetulan, aku baru aja nerima penjaga kos baru. Namanya Ridwan."
Ketiga ibu muda itu serempak menoleh ke arah Maya. Ranti yang sejak tadi diam, kini menatap Maya dengan sepasang mata sendunya yang penasaran.
"Penjaga kos baru, Mbak? Orang mana?" tanya Ranti pelan.
"Dia dari desa. Merantau ke sini katanya mau cari ibu kandungnya yang dulu warga Margahayu," jelas Maya. Nada suaranya sedikit merendah, menyembunyikan getar aneh saat ia mengingat kejadian malam badai itu. "Anaknya masih muda, sekitar dua puluh empat tahun. Tapi jangan salah, tenaganya kuat dan serba bisa. Semalam waktu badai dan listrik rumahku mati, dia yang manjat dan benerin di tengah hujan deras. Orangnya sopan banget, selalu nunduk kalau diajak ngobrol."
Kania menghentikan suapannya sejenak, menatap Maya dengan raut prihatin. "Ya ampun, kasihan banget masih muda udah sebatang kara nyari ibunya. Pasti berat ya hidupnya di kota."
"Nah, makanya itu," Maya meraih botol minumnya. "Gajinya dari jaga kos kan nggak seberapa. Kalau kalian ada perabotan rusak, keran bocor, atau butuh tenaga buat beres-beres taman, panggil aja dia. Hitung-hitung bantu dia cari penghasilan tambahan."
Laras mengangguk antusias. "Wah, boleh juga tuh, Mbak! Nanti aku minta tolong dia aja benerin keran dapur. Daripada nungguin suamiku yang nggak pasti."
"Iya, boleh juga. Nanti Ranti juga coba kasih kerjaan bersihin talang air di rumah, udah mulai mampet karena daun kering," tambah Ranti dengan suaranya yang lembut.
Di dalam hati, Maya tersenyum puas. Bukan hanya karena ia berhasil mencarikan pekerjaan tambahan untuk Ridwan, tetapi instingnya mengatakan bahwa ini adalah cara yang baik agar pemuda polos itu bisa berbaur. Meski jauh di lubuk hatinya yang paling gelap, ada sebersit rasa kepemilikan yang enggan ia akui; ia yang pertama kali 'menemukan' pemuda itu.
Sementara itu, di sudut lain Margahayu, sebuah warung kelontong sederhana yang merangkap warung nasi uduk sudah ramai oleh bapak-bapak yang sedang menyesap kopi hitam dan bermain catur.
Ridwan duduk di salah satu bangku kayu panjang yang agak menjorok ke dalam, jauh dari keramaian. Di hadapannya tersaji sepiring nasi uduk, setengah potong telur dadar, sayur nangka, dan tempe orek. Hanya itu yang mampu ia beli. Uang sakunya harus dihemat ketat setidaknya sampai bulan depan, saat ia menerima gaji pertamanya dari Maya.
Dari balik etalase kaca, Nayla (25) memperhatikannya. Penjual warung yang masih sangat muda dan cantik alami itu mengusap meja sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ridwan. Kulit Nayla kuning langsat, dan meski hanya memakai daster rumahan berlapis kardigan tipis, pesona kewanitaannya sangat kental.
"Nggak nambah telurnya, Mas Ridwan? Mumpung masih anget nih," sapa Nayla ramah, suaranya renyah dan menggemaskan.
Ridwan mendongak, namun dengan cepat menundukkan pandangannya kembali. Wajahnya sedikit memerah. "Eh, t-tidak usah, Mbak Nayla. Ini saja sudah sangat cukup. Alhamdulillah, masakan Mbak selalu enak."
Nayla tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat. Suaminya yang jarang pulang membuat Nayla sering merasa kesepian, dan kehadiran pemuda pendiam namun memancarkan aura keteguhan seperti Ridwan menjadi hiburan tersendiri baginya.
"Tuh, dengerin, Nay! Masakannya dibilang enak sama pemuda desa!" goda Pak RT yang sedang memegang pion catur. "Jang Ridwan, betah-betah ya di sini. Kalau butuh apa-apa, bilang aja sama warga."
Ridwan tersenyum kikuk, mengangguk sopan ke arah bapak-bapak itu. "Banyak terima kasih, Pak. Mohon bimbingannya."
Selesai makan, Ridwan segera membayar. Saat ia menyerahkan uang pas ke tangan Nayla, jari kasar Ridwan tak sengaja menyentuh punggung tangan Nayla yang halus. Keduanya tersentak pelan. Ridwan buru-buru menarik tangannya sambil bergumam minta maaf, sementara Nayla hanya bisa menunduk menutupi semburat merah di pipinya. Jantung wanita bersuami itu berdebar tak beraturan melihat kepolosan Ridwan.
Langkah kaki Ridwan membawanya kembali ke rumah kos. Udara mulai menghangat. Saat ia baru saja menutup gerbang, Bi Inah menghampirinya dari arah dapur rumah Maya.
"Jang Ridwan, kebetulan udah pulang. Ibu Maya tadi pesen, tolong bersihin kolam renang di halaman belakang ya. Daun-daun pada rontok ke situ gara-gara angin semalam," perintah Bi Inah sambil menyerahkan sebuah kunci gerbang samping.
Ridwan tertegun. "Kolam... renang, Bi?"
Seumur hidupnya, Ridwan hanya tahu mandi di sungai atau di pancuran bambu desanya. Kolam renang adalah sesuatu yang hanya ia lihat sekilas di majalah bekas. Namun, ia tidak mau mengecewakan majikannya.
"Iya, Jang. Nanti alatnya ada di gudang dekat situ. Tanya aja sama Ibu kalau bingung, kebetulan Ibu lagi di belakang."
Dengan langkah ragu, Ridwan menyusuri lorong samping rumah yang rindang hingga tiba di halaman belakang yang sangat luas. Matanya melebar melihat hamparan air biru jernih berbentuk persegi panjang yang memantulkan cahaya matahari.
Namun, bukan hanya kolam renang itu yang membuat langkah Ridwan terhenti dan napasnya tercekat.
Di pinggir kolam, di atas sebuah matras hitam, Maya sedang melakukan gerakan yoga. Pakaian olahraga yang tadi pagi ia kenakan kini tampak lebih menempel di tubuhnya akibat peluh. Saat Ridwan melangkah masuk, Maya sedang berada dalam posisi downward-facing dog. Posisi itu memamerkan lekuk pinggulnya yang penuh, garis punggungnya yang melengkung indah, dan kemulusan kakinya secara terang-terangan.
Wajah Ridwan memanas seketika. Darah mudanya berdesir hebat. Ia buru-buru menoleh ke arah lain, menatap tajam ke arah pot bunga seolah pot itu adalah benda paling menarik di dunia.
"M-maaf, Nyonya... eh, Mbak Maya. Bi Inah menyuruh saya ke mari untuk membersihkan kolam," suara bariton Ridwan terdengar sedikit bergetar, kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Maya perlahan menurunkan tubuhnya, mengubah posisinya menjadi duduk bersimpuh. Napas wanita itu sedikit memburu akibat olahraga. Ia menatap Ridwan yang salah tingkah, dan sebuah senyum geli bercampur godaan samar terukir di bibirnya.
"Sini, Ridwan," panggil Maya lembut.
Ridwan berjalan mendekat, matanya terkunci rapat pada lantai marmer di pinggir kolam.
"Kamu belum pernah membersihkan kolam renang?" tanya Maya. "Belum, Mbak. Di desa saya tidak ada yang seperti ini. Mohon petunjuknya, agar saya tidak salah mengerjakannya."
Maya bangkit berdiri. Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Aroma parfum mahal Maya yang bercampur dengan feromon alami dari keringatnya menguar, menusuk penciuman Ridwan dan membuat kepalanya sedikit pening.
"Gampang kok. Itu serokannya, jaring daun-daun yang mengambang. Lalu di sudut sana ada tuas untuk menyalakan vakum dasar kolam," Maya menunjuk ke arah alat-alat di sudut dinding, sementara Ridwan mendengarkan dengan saksama tanpa berani menatap mata, apalagi tubuh wanita di depannya.
"Baik, Mbak. Saya kerjakan sekarang."
Ridwan menggulung lengan kemejanya dan mulai bekerja. Maya, bukannya masuk ke dalam rumah, justru kembali ke atas matras yoganya. Ia kembali melakukan gerakan-gerakan stretching yang lambat dan gemulai.
Tugas membersihkan kolam mengharuskan Ridwan bergerak ke setiap sisi. Dan di sanalah siksaan itu dimulai.
Setiap kali Ridwan mengangkat serokan, sudut matanya tak sengaja menangkap bayangan Maya. Terkadang Maya sedang meregangkan tangan ke atas, membusungkan dadanya hingga belahan dadanya mengintip dari balik tank top. Di lain waktu, Maya membungkuk, memperlihatkan betapa padat dan indahnya tubuh bagian belakangnya.
Sebagai pria dua puluh empat tahun yang normal dan bugar, respons fisik Ridwan tak bisa dicegah. Aliran darahnya menderas cepat ke bagian bawah tubuhnya. Ia menelan ludah berulang kali, mencoba beristigfar di dalam hati, namun pemandangan di hadapannya terlalu menggoda untuk ditepis.
Celana panjang bahan kain yang Ridwan kenakan mulai terasa sesak. Juniornya bangkit melawan kehendaknya, mengeras hingga menekan ritsleting celana. Panik karena takut ketahuan, Ridwan mencari cara.
"Mbak, bagian tengahnya sulit dijangkau kalau dari atas," dalih Ridwan dengan suara serak. "Turun saja ke air, tidak apa-apa," jawab Maya tanpa menoleh, masih fokus pada pernapasannya.
Tanpa menunggu dua kali, Ridwan menanggalkan kemeja usangnya, menyisakan kaos oblong putih, dan langsung masuk ke dalam kolam dangkal bersetinggi pinggang. Rasa dingin air kolam sedikit meredam suhu tubuhnya yang mendidih, dan yang terpenting, air menyembunyikan tonjolan bukti kejantanannya yang sedang meronta.
Dari atas matras, Maya membuka sebelah matanya, diam-diam mengamati Ridwan. Kaos putih tipis yang basah itu kembali mencetak otot-otot perut dan dada pemuda itu. Maya menggigit bibir bawahnya, merasakan hawa panas perlahan menjalar di perut bagian bawahnya. Saling diam, saling mengamati tanpa ketahuan. Udara di sekitar kolam renang siang itu terasa begitu padat oleh ketegangan sensual yang tak terucap.
Hampir tengah hari, pekerjaan Ridwan akhirnya selesai. Air kolam kembali biru bersih tanpa sehelai daun pun.
Ridwan naik ke tepi kolam dengan tubuh basah kuyup. Di teras santai, Maya sudah duduk menunggu. Wanita itu sudah selesai mandi dan kini mengenakan sundress kasual selutut berwarna peach berbahan katun lembut yang membuat kulitnya tampak semakin bersinar. Rambutnya digerai setengah basah.
"Sudah selesai, Ridwan? Bersih sekali, terima kasih ya," puji Maya. "Sama-sama, Mbak Maya. Sudah tugas saya," Ridwan menunduk, air menetes dari ujung rambutnya.
Maya berdiri, melangkah mendekati Ridwan sambil membawa tumpukan baju bersih. "Kamu mandi dan bilas badanmu di kamar mandi dekat gudang situ. Ini, aku bawakan lagi beberapa baju. Pakaianmu yang lama sudah banyak yang tipis dan pudar. Pakai saja ini, anggap sebagai bonus kerjamu hari ini."
Ridwan mendongak, matanya menatap tumpukan baju bermerek itu. "Mbak... ini terlalu berlebihan. Saya" "Sst," Maya memotong cepat. "Jangan menolak rezeki. Lagipula, aku ingin penjaga kosku tampil rapi. Sudah, sana mandi."
Kewibawaan Maya membuat Ridwan tak berkutik. "Baik. Terima kasih banyak, Mbak Maya."
Ridwan melangkah menuju kamar mandi bilas yang terletak sedikit tersembunyi di balik tanaman merambat hias. Kamar mandi itu semi-terbuka di bagian atasnya, dengan dinding batu alam dan pintu kayu berukir.
Di teras, Maya berdiri mematung. Akal sehatnya menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah dan menyiapkan makan siang. Namun, desir gila di nadinya, sisa dari pemandangan tubuh berotot Ridwan di kolam tadi, meruntuhkan pertahanannya. Ia kalah oleh godaan setan dan rasa hausnya sendiri.
Dengan langkah sepelan kucing, Maya berjalan menyusuri pinggiran taman, mendekati dinding kamar mandi bilas tersebut. Terdapat ukiran kayu pada pintu yang memiliki sedikit celah lubang angin di bagian tengahnya.
Napas Maya memburu. Dengan tangan gemetar, ia mencondongkan tubuhnya, mengintip melalui celah kecil itu.
Di dalam, di bawah guyuran shower beraliran deras, Ridwan berdiri membelakangi pintu. Pemuda itu sedang mengusap sabun ke pundak dan punggungnya yang bidang. Otot-ototnya bergerak bergelombang seiring gerakannya. Aliran air membasuh sisa sabun, mengalir turun melewati garis tulang punggungnya, menuju celah bokongnya yang tegap dan pinggulnya yang ramping. Saat Ridwan sedikit berbalik untuk meraih sampo, Maya kembali melihat garis tegas dari kejantanan pemuda itu yang sesaat kembali mengeras mungkin sisa dari ketegangannya di kolam renang tadi.
Dunia Maya seakan berputar. Lututnya terasa lemas. Sengatan gairah yang teramat dahsyat menghantam titik pusat kewanitaannya. Ia merapatkan kedua pahanya, merintih tertahan tanpa suara.
Mata Maya tak bisa lepas dari tontonan itu. Di balik rimbunnya tanaman hias, tak ada yang bisa melihatnya. Didorong oleh hasrat liar yang sudah tak terbendung, tangan kanan Maya perlahan turun menyusuri perutnya sendiri. Melewati kain sundress yang lembut, jemari lentiknya menyusup ke balik pakaian dalamnya.
Ia menemukan dirinya sudah sangat basah dan sensitif. Sambil terus menatap tubuh maskulin Ridwan di balik guyuran air, Maya mulai menyentuh titik pusat gairahnya sendiri.
Ah... Ridwan... jeritnya dalam hati.
Gerakan jarinya perlahan, lalu semakin cepat, mengikuti ritme napasnya yang putus-putus. Ia memejamkan mata sesaat, membayangkan bahwa air yang mengguyur tubuh pemuda itu adalah keringat, dan tubuh kekar itu sedang menekan tubuhnya di atas ranjang. Ia membayangkan lengan kokoh itu memeluk pinggangnya, dan kepolosan pemuda itu berubah menjadi dominasi mematikan yang mengoyak kewarasannya.
Tubuh Maya menegang hebat. Ia menggigit punggung tangan kirinya untuk menahan jeritan desahan yang hampir meledak dari bibirnya. Gelombang kenikmatan menyapu seluruh sarafnya, membawanya pada pelepasan yang memabukkan dan menghancurkan akal sehatnya. Kedua kakinya bergetar saat klimaks itu mereda, meninggalkan napasnya yang tersengal-sengal di balik tanaman rambat.
Cepat-cepat, sebelum Ridwan menyelesaikan mandinya, Maya merapikan pakaiannya dan berjalan terhuyung menuju meja makan di dalam rumah. Ia butuh segelas air es untuk mendinginkan tubuh dan wajahnya yang memerah padam bak kepiting rebus.
Lima belas menit kemudian, Ridwan melangkah masuk ke ruang makan rumah Maya dari pintu belakang. Pemuda itu tampak sangat berbeda. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek berkualitas tinggi dan celana panjang berwarna khaki. Ketampanannya, dipadu dengan tubuhnya yang bugar, membuat pakaian apa pun yang melekat padanya terlihat bagaikan model majalah.
"Mbak Maya... saya sudah selesai," ucap Ridwan, berdiri canggung di ambang pintu.
Maya yang duduk di ujung meja makan mendongak. Jantungnya kembali berdegup kencang melihat ketampanan pemuda di depannya, namun ia berusaha mati-matian menguasai diri. Ia memasang topeng keanggunannya, menyembunyikan badai nafsu yang baru saja memporak-porandakan dirinya di halaman belakang.
"Sini, Ridwan. Duduk. Kita makan siang dulu," ajak Maya dengan suara yang diusahakan setenang mungkin.
Ridwan terkejut. "Makan siang? S-saya makan di warung saja, Mbak. Tadi pagi saya sudah sarapan. Lagipula tidak pantas saya makan satu meja dengan Nyonya rumah."
"Ini perintah keduaku hari ini, Ridwan. Duduk," Maya menggunakan nada mutlaknya, memotong segala alasan pemuda itu.
Dengan ragu dan sangat sungkan, Ridwan menarik kursi di seberang Maya dan duduk perlahan. Di atas meja sudah tersaji masakan dari Bi Inah: ayam goreng lengkuas, sayur asam, dan sambal terasi.
"Ambil sendiri nasinya. Jangan malu-malu," ucap Maya.
Ruang makan itu seketika diliputi keheningan yang tebal. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Ridwan makan dengan sangat tenang dan sopan, pandangannya selalu terarah pada piringnya. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah cantik majikannya.
Pemuda desa itu tidak tahu-menahu tentang apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu mengapa suasana terasa begitu canggung. Dan yang paling penting, Ridwan sama sekali tidak tahu bahwa di balik sikap anggun dan tenang wanita berkelas yang duduk di hadapannya saat ini, tubuh bagian bawah wanita itu masih berdenyut sensitif, sangat basah, dan menyembunyikan sebuah rahasia gelap yang baru saja dilepaskan dengan membayangkan nama dan tubuhnya.
Maya mengunyah makanannya perlahan. Dari balik bulu matanya yang lentik, ia menatap wajah lugu Ridwan. Pertempuran di dalam batin Maya belum usai; ia tahu, mulai detik ini, hidupnya di Margahayu tidak akan pernah sama lagi. Pemuda ini adalah racun yang menyamar dalam rupa kesalehan, dan Maya sudah meminumnya seteguk demi seteguk.
ns216.73.216.75da2

will be deducted