Malam perlahan merangkak menembus angka sepuluh. Di Margahayu, jam segini adalah batas pemisah antara kehidupan yang bising dan keheningan yang absolut. Suara jangkrik mulai mengambil alih, berpadu dengan embusan angin malam yang membawa hawa dingin menggigit kulit.
Di depan gerbang besi kos-kosan VIP milik Maya, Ridwan berdiri menarik daun pintu gerbang yang berat. Tugas terakhirnya malam ini adalah memastikan semua pintu terkunci rapat. Setelah seharian bekerja keras, dari membersihkan kolam renang yang menguras kewarasannya hingga memotong rumput di sore hari, tubuhnya menuntut untuk segera direbahkan di atas kasur tipis kamarnya.
Namun, saat tangan kekarnya baru saja akan menggeser slot gembok, ekor matanya menangkap sebuah bayangan dari ujung jalan gang.
Seorang perempuan berjalan tergesa-gesa menembus remang cahaya lampu jalan. Langkahnya sedikit diseret, dan kedua tangannya bersedekap menahan dingin. Saat sosok itu semakin dekat, di bawah temaram lampu jalanan, Ridwan bisa mengenali wajah itu.
Nayla. Perempuan penjaga warung yang tadi pagi memberinya senyum manis dan lauk tambahan.
Malam ini, Nayla tampak berbeda. Rambut sebahunya yang biasanya diikat rapi kini dibiarkan tergerai berantakan, membingkai wajahnya yang tampak lelah dan cemas. Ia mengenakan baju tidur selutut yang ditutupi oleh kardigan rajut tipis yang kedodoran.
"Mas... Mas Ridwan..." panggil Nayla dengan suara sedikit terengah, setengah berbisik agar tidak membangunkan tetangga.
Ridwan melepaskan tangannya dari gembok, berdiri tegap menatap kedatangan wanita itu. Matanya langsung menunduk, tak berani menatap tubuh Nayla yang terbalut pakaian tipis di tengah malam buta.
"Ada apa, Mbak Nayla? Malam-malam begini ada di luar?" tanya Ridwan sopan, suaranya yang berat memecah keheningan.
Nayla meremas ujung kardigannya. Matanya memancarkan keputusasaan yang nyata. "Mas, maaf banget aku ganggu malam-malam. Kompor gasku mati, Mas. Nggak tahu apanya yang rusak. Padahal jam segini aku udah harus mulai masak bumbu buat besok jualan. Besok ada pesanan katering nasi kotak lumayan banyak buat orang pabrik."
Nayla menarik napas, suaranya terdengar bergetar menahan tangis. "Dari jam sembilan tadi aku otak-atik sendiri nggak nyala-nyala. Suamiku nggak ada di rumah... Aku bingung harus minta tolong siapa. Mau gedor rumah tetangga takut dimarahi. Pas aku lihat ke arah sini, Mas Ridwan kebetulan masih di luar. Mas bisa tolongin aku?"
Sebuah alarm peringatan berbunyi nyaring di kepala Ridwan. Pesan guru ngajinya di surau desa dulu kembali terngiang jelas: Janganlah seorang laki-laki dan perempuan bukan mahram berdua-duaan di tempat yang sepi, karena yang ketiga adalah setan.
Ridwan adalah pemuda perjaka yang tahu batasan. Masuk ke dalam rumah seorang istri yang suaminya sedang tidak ada, di tengah malam yang sunyi, adalah sebuah jurang fitnah yang sangat berbahaya.
"Mbak... bukannya saya tidak mau menolong," ucap Ridwan hati-hati, berusaha merangkai penolakan sehalus mungkin. "Tapi ini sudah larut malam. Tidak baik dilihat tetangga kalau saya masuk ke rumah Mbak sementara suami Mbak tidak ada."
Mendengar itu, pertahanan Nayla runtuh. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya yang lelah. "Tolonglah, Mas... Hanya lihat sebentar saja. Kalau pesanannya batal besok, aku harus ganti rugi, dan aku nggak punya uangnya. Mertuaku pasti bakal marah besar. Aku janji pintunya aku buka lebar-lebar biar orang bisa lihat. Tolong, Mas..."
Melihat air mata itu jatuh, hati nurani Ridwan tersentil. Ia tak tega melihat seorang perempuan menangis karena beban hidup. Rasa kemanusiaannya mengalahkan ketakutannya. Lagipula, niatnya hanya untuk menolong, murni lillahi ta'ala.
"Baiklah, Mbak. Saya ambil peralatannya sebentar di pos," putus Ridwan akhirnya. Tangis Nayla langsung mereda, digantikan raut kelegaan yang luar biasa.
Jarak rumah Nayla hanya terhalang beberapa bangunan dari kosan Maya. Rumah itu sederhana, menyatu dengan area warung kelontong di bagian depannya. Saat mereka masuk, Nayla benar-benar menepati janjinya. Ia membiarkan pintu depan terbuka separuh, membiarkan angin malam masuk ke dalam ruangan.
Di dapur yang sempit dan berbau khas rempah, bawang, dan kecap, Ridwan segera berjongkok di depan kompor gas dua tungku yang tampak kusam. Ia meletakkan kotak peralatannya dan mulai bekerja.
"Maaf ya, Mas, dapurnya berantakan," gumam Nayla, berdiri sekitar satu meter di belakang Ridwan. "Tidak apa-apa, Mbak. Namanya juga tempat orang mencari rezeki," jawab Ridwan tanpa menoleh.
Waktu merangkak lambat. Sudah lima belas menit Ridwan membongkar pasang regulator, membersihkan saluran pemantik yang mampet oleh sisa minyak, dan mengecek selang gas. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara dentingan obeng dan napas Ridwan yang teratur.
Di belakangnya, Nayla berdiri mematung. Matanya yang lelah mulai menelusuri punggung tegap pemuda yang sedang berjongkok itu. Kemeja Ridwan sedikit terangkat di bagian belakang, memperlihatkan kulit punggungnya yang sawo matang. Lengan kokohnya bergerak cekatan, urat-urat halus di lengannya menonjol setiap kali ia memutar obeng dengan kuat.
Di tengah keheningan malam yang menghanyutkan, setan mulai membisikkan lagu lamanya ke telinga Nayla. Kesepian yang selama ini ia kunci rapat-rapat dalam relung hatinya, tiba-tiba menyeruak keluar, mengoyak dinding kewarasannya. Ia menatap Ridwan, bukan lagi sebagai tetangga yang menolongnya, melainkan sebagai sosok laki-laki tangguh pelindung sesuatu yang sangat ia rindukan.
Kesunyian itu terasa mencekik leher Nayla. Ia butuh pelampiasan. Ia butuh didengar.
"Suamiku supir truk tronton antar provinsi, Mas..." suara Nayla tiba-tiba memecah keheningan, mengalun parau dan bergetar.
Ridwan yang sedang meniup pipa pemantik menghentikan gerakannya sejenak. Ia tertegun. Mengapa tiba-tiba Nayla menceritakan hal ini? Namun, Ridwan memilih diam, kembali melanjutkan pekerjaannya, berharap perempuan itu hanya butuh berbicara untuk membunuh sepi.
Namun, Nayla terus melanjutkan. Bendungan emosinya telah jebol. "Dia kerja di bawah pabrik kayu besar di Kalimantan. Gajinya besar... sangat besar. Tapi dia cuma pulang tiga bulan sekali. Kadang setengah tahun baru pulang."
Nayla maju selangkah, suaranya mulai diwarnai isak yang tertahan. "Mas tahu kenapa aku jualan di warung ini? Ini warung mertuaku. Waktu kami menikah setahun yang lalu, ibu mertuaku memaksakan gengsinya. Dia berutang ke mana-mana demi bikin pesta resepsi yang mewah di kampung, cuma biar dibilang keluarga sukses. Dan sekarang... aku dan suamiku yang menanggung utang itu. Aku dipaksa mengurus warung ini untuk mencicil utang pesta pernikahanku sendiri."
Ridwan menelan ludah. Hatinya mencelos mendengar kegetiran dalam suara wanita muda di belakangnya. Tangannya yang memegang tang sedikit gemetar.
"Aku ini sarjana, Mas," lirih Nayla, senyum getir tersungging di bibirnya. "Aku punya mimpi kerja di kantoran, pakai baju rapi. Tapi pas baru lulus, suamiku melamar. Aku pikir menikah adalah awal dari kebahagiaan. Ternyata... aku cuma jadi mesin pencetak uang buat mertuaku. Ibu mertuaku sendiri asyik buka warung makan di kampung sebelah. Kalau malam begini, aku sendirian. Masak bumbu sendirian. Nanti jam tiga subuh, ibuku kandungku yang umurnya sudah tua dan masih jadi guru honorer SD harus jalan kaki beda RW cuma buat bantu aku nyiapin dagangan."
Nayla mengusap air matanya yang jatuh ke pipi. Ia menatap punggung Ridwan dengan tatapan yang sangat dalam, penuh dengan kerinduan akan kehangatan.
"Aku capek, Mas," bisik Nayla, suaranya kini sangat pelan, hampir seperti desahan. "Suami yang jauh... utang yang menumpuk... Aku merasa seperti pajangan yang dibiarkan berdebu. Aku kesepian, Mas. Suamiku memberiku uang, tapi dia tidak pernah memberiku waktu. Aku istri yang tidak pernah mendapatkan nafkah batin selayaknya perempuan yang baru menikah."
Mendengar kata 'nafkah batin', bulu kuduk Ridwan meremang hebat. Insting laki-lakinya menjerit keras. Atmosfer di dapur sempit itu seketika berubah menjadi sangat tebal dan memabukkan. Udara terasa panas. Ini adalah godaan yang nyata. Ridwan tahu, jika ia menanggapi curhatan itu, ia akan masuk ke dalam jebakan simpati yang berujung pada perzinaan hati, atau bahkan lebih buruk.
Ya Allah, lindungi hamba, batin Ridwan berdoa dengan kencang.
Dengan gerakan cepat, Ridwan merakit kembali kompor tersebut. Tangannya bergerak secepat kilat memasang regulator ke tabung gas.
Cetak! Wusss... Api biru yang sempurna menyala di atas tungku. Kompor itu kembali hidup.
Ridwan buru-buru mematikan api itu. Ia langsung membereskan peralatannya tanpa menoleh. "Alhamdulillah, sudah menyala, Mbak Nayla. Salurannya cuma kotor dan regulatornya sedikit goyang."
Ridwan hendak berdiri, berniat untuk segera melarikan diri dari dapur yang kini terasa seperti tungku api neraka itu. Namun, belum sempat ia bangkit sepenuhnya, sebuah tangan yang sangat lembut menyentuh punggung tangannya yang kasar.
Ridwan tersentak, gerakannya terhenti. Sentuhan itu terasa dingin, namun menyengat seperti aliran listrik.
Ia menoleh secara refleks. Saat itulah, mata mereka beradu. Wajah Nayla hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Dari jarak sedekat ini, Ridwan bisa melihat dengan jelas mata bulat Nayla yang sembab karena menangis, hidungnya yang merah, dan bibirnya yang sedikit bergetar. Tatapan wanita itu memancarkan rasa haus yang memilukan tatapan seorang istri yang rapuh, hancur, dan merindukan dekapan.
Sebelum Ridwan sempat mencerna apa yang terjadi, dan dengan gerakan yang tak bisa diprediksi, Nayla berjinjit. Kedua tangannya yang bergetar tiba-tiba melingkar erat di leher Ridwan.
Dan detik berikutnya, bibir Nayla menempel di bibir Ridwan.
Dunia Ridwan seakan berhenti berputar. Udara terampas dari paru-parunya. Kecupan itu bukan kecupan yang menuntut, melainkan kecupan putus asa dari seorang wanita yang mencari pegangan di tengah badai kesepian. Aroma bedak bayi dan aroma khas rempah dari tubuh Nayla menyeruak masuk ke penciuman Ridwan. Tubuh lembut perempuan itu menempel pada dadanya.
Sebagai pria dua puluh empat tahun yang bugar dan sehat, darah Ridwan langsung mendidih. Kejantanannya merespons dengan cepat godaan yang begitu tiba-tiba ini. Tubuhnya seakan menolak untuk menyingkir, menikmati sentuhan lembut yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya. Sisi liarnya berteriak untuk membalas pelukan itu, untuk mendekap tubuh rapuh Nayla dan memberikan apa yang wanita itu butuhkan.
Namun, di detik kritis di mana akal sehat hampir runtuh, seberkas cahaya imannya menyala terang. Bayangan ibunya yang entah di mana, serta rasa takutnya kepada Sang Pencipta, menghantam ulu hatinya dengan keras.
Astagfirullahaladzim!
Dengan tenaga yang tersisa, Ridwan memegang kedua bahu Nayla. Tidak dengan kasar, namun dengan ketegasan yang tak bisa dibantah. Ia menarik tubuhnya mundur, melepaskan rangkulan tangan Nayla dari lehernya.
Nayla terhuyung pelan ke belakang, menatap Ridwan dengan mata terbelalak, napasnya memburu.
Dada Ridwan naik turun. Wajahnya memerah karena menahan gejolak nafsu yang baru saja terbangun dan harus ia kubur paksa saat itu juga. Ia menatap Nayla dengan pandangan yang teduh, tanpa ada setitik pun penghakiman di matanya, hanya ada rasa iba yang tulus.
"Astagfirullah... Maafkan saya, Mbak Nayla," ucap Ridwan, suaranya berat dan bergetar. "Apa yang Mbak lakukan ini salah. Mbak adalah istri orang. Sesulit apa pun masalah Mbak, sekesepian apa pun Mbak, jangan gadaikan kehormatan Mbak kepada laki-laki hina seperti saya."
Kata-kata Ridwan meluncur pelan, namun dampaknya bagaikan tamparan keras yang menghantam kesadaran Nayla.
Seketika itu juga, ilusi godaan setan di kepala Nayla pecah berkeping-keping. Realitas menghantamnya dengan kejam. Ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia, seorang istri yang bersuami, baru saja mencium bibir pemuda asing yang niatnya hanya menolong.
Rasa malu yang luar biasa besar langsung menyelimuti sekujur tubuh Nayla. Wajahnya pucat pasi. Ia merasa sangat kotor, murahan, dan hina. Bagaimana bisa ia lepas kendali hanya karena keputusasaan?
Nayla langsung berbalik, membelakangi Ridwan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar. Tangisnya pecah, bukan lagi tangisan karena lelah, melainkan tangisan penyesalan yang menyayat hati. Bahunya berguncang hebat di balik kardigan tipisnya.
"Maaf... Ya Allah, maafkan aku..." isak Nayla di sela jemarinya. Ia tak sanggup lagi menatap wajah pemuda suci di belakangnya. Kealiman Ridwan justru membuat Nayla merasa semakin kerdil.
"Tolong... tolong keluar, Mas," usir Nayla sambil terus membelakangi Ridwan, suaranya parau oleh tangis. Ia bahkan lupa mengucapkan terima kasih karena rasa malu yang terlalu mencekik. "Keluar..."
Ridwan menatap punggung bergetar itu sejenak. Ia sangat mengerti. Menenangkan Nayla saat ini hanya akan menambah panjang daftar godaan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Ridwan mengangkat kotak peralatannya. Ia melangkah keluar dari dapur itu, menyusuri ruang depan, dan keluar dari pintu yang sedari tadi sengaja dibuka.
Ridwan menarik pintu itu, namun tidak menutupnya rapat-rapat, meninggalkan celah agar udara bisa melegakan sesak di dada wanita di dalam sana.
Jalanan gang terasa semakin dingin saat Ridwan berjalan kembali menuju pos jaganya. Langkahnya terasa berat, seolah ia baru saja memanggul beban berkuintal-kuintal. Sesampainya di gerbang kos, ia menguncinya dengan gerakan mekanis, pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Ia berjalan ke arah bagian belakang bangunan, masuk ke dalam kamar gudang kecil yang menjadi tempat tinggalnya. Ruangan sepetak itu hanya diterangi lampu lima watt. Di sudut ruangan terdapat kasur busa tipis tanpa ranjang, sebuah kipas angin kecil, dan tas ransel kumalnya.
Ridwan meletakkan kotak peralatan ke lantai dengan lemas. Ia duduk di tepi kasur, menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan frustrasi.
Jantungnya masih berdegup sangat kencang. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Sensasi lembut, basah, dan hangat dari bibir Nayla masih tertinggal dengan jelas di sana, seolah membakar kulitnya.
Pemuda desa itu memejamkan mata, namun bayangan wajah Nayla yang memohon, aroma tubuhnya yang wangi, serta sentuhan lembut di lehernya justru terputar berulang-ulang seperti kaset rusak di kepalanya. Di bawah celananya, naluri kelaki-lakiannya masih menegang, belum sepenuhnya mereda dari sengatan gairah sesaat tadi.
Ridwan mengerang pelan, mencengkeram rambutnya sendiri. Ia adalah laki-laki normal. Darahnya panas dan usianya sedang berada di puncak kejantanan. Bohong jika ia mengatakan tidak ada setitik pun kenikmatan dari kecupan itu. Bohong jika ia tidak membayangkan bagaimana rasanya membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Astaghfirullahaladzim... ampuni hamba, Ya Allah," bisik Ridwan merintih dalam keheningan kamarnya.
Ia langsung berdiri, berjalan ke keran air di sudut luar kamarnya. Ridwan mengguyur wajahnya, membasuh kepalanya, lengannya, mengambil air wudu dengan saksama. Dinginnya air perlahan mendinginkan suhu tubuhnya yang mendidih, menyapu sisa-sisa nafsu yang mengotori batinnya.
Setelah menunaikan salat sunah dua rakaat untuk menenangkan hati, Ridwan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Matanya menatap langit-langit kamar yang berjamur. Suara detak jam dinding seakan menjadi satu-satunya teman malam ini.
Tubuh fisiknya sangat lelah, namun pikiran dan batinnya bergejolak hebat. Margahayu, tempat yang ia kira hanya sebuah permukiman biasa di pinggiran kota, ternyata menyimpan jurang-jurang godaan yang sangat dalam. Di balik rumah-rumah mewah dan dinding-dinding tembok yang kokoh, terdapat jiwa-jiwa rapuh yang kesepian.
Dari tatapan mata Mbak Maya di siang bolong yang membuat bulu kuduknya meremang tanpa alasan, hingga pelukan putus asa Nayla di tengah malam. Semua ini adalah ujian yang nyata bagi keimanannya.
Ridwan menarik selimut tipisnya sebatas dada. Matanya perlahan mulai memberat seiring rasa kantuk yang akhirnya datang menyerang. Namun, sebelum kesadarannya benar-benar hilang ke alam mimpi, sebuah pertanyaan menggantung di benaknya.
Jika hari ini godaan itu datang dalam rupa air mata dan keputusasaan... besok, rupa apa lagi yang akan menantiku di kampung ini?
Malam terus bergulir, menelan Margahayu dalam kegelapan, menyimpan rapat-rapat rahasia desahan di sudut kotanya, menunggu fajar menyingsing untuk memulai babak ujian yang baru.
ns216.73.216.75da2

will be deducted