Fajar hari Senin menyingsing, membawa serta embun yang menetes dari ujung-ujung daun mangga di pekarangan Margahayu. Udara masih terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, namun bagi Ridwan, hari sudah dimulai sejak gema azan Subuh berkumandang.
Sebagai penjaga kos VIP yang tahu diri akan posisinya, tugas Ridwan tidaklah sedikit. Setelah menunaikan kewajiban di surau kecil dekat gang, ia langsung bergerak bak mesin yang tak kenal lelah. Membuka gerbang besi yang berat, mengecek ketersediaan air di toren, membersihkan dapur umum kos yang sering kali ditinggalkan dalam keadaan berantakan oleh para penghuni, hingga menyapu hamparan halaman yang luas.
Tak terasa, matahari mulai merangkak naik. Jarum jam di pergelangan tangannyajam tangan karet murah peninggalan almarhum ayahnya menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Perut Ridwan mulai berbunyi, menuntut haknya untuk diisi. Cacing-cacing di perutnya seakan berdemo setelah energinya terkuras habis untuk bekerja sedari subuh.
Namun, langkah Ridwan terhenti di depan gerbang. Bayangan warung kelontong di ujung jalan tiba-tiba membuat dadanya sesak. Ingatannya kembali terlempar pada kejadian semalam. Sentuhan bibir Nayla, air mata keputusasaan wanita itu, dan rasa bersalah yang menganga lebar. Ego Ridwan sebagai seorang laki-laki seakan mundur berabad-abad. Hatinya yang terlampau polos merasa gundah dan malu. Padahal ia tahu, ia tidak bersalah dan tidak memiliki niat jahat sedikit pun. Namun, membayangkan harus menampakkan diri di hadapan Nayla pagi ini dan memesan sarapan seolah tak terjadi apa-apa, sungguh di luar kemampuan batinnya.
Di tengah lamunannya yang kalut, sebuah suara lembut dan riang memecah keheningan pagi.
"Assalamualaikum... Mas Ridwan, ya?"
Ridwan tersentak. Ia menoleh dan mendapati sesosok perempuan berdiri tak jauh dari gerbang. Perempuan itu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, bersinar tertimpa cahaya matahari pagi. Ia mengenakan daster selutut bermotif bunga-bunga kecil yang dipadukan dengan kardigan rajut berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang jatuh membingkai wajah ovalnya. Harum parfum aroma melati dan vanila langsung menyeruak, mengalahkan bau embun pagi.
"Wa... Waalaikumsalam," jawab Ridwan sedikit terbata, buru-buru menundukkan pandangannya. "Benar, Bu. Saya Ridwan."
Perempuan itu tersenyum manis, memaklumi sikap malu-malu pemuda di hadapannya. "Kenalin, Mas. Saya Laras. Rumah saya di ujung blok sana. Saya dikasih tahu sama Mbak Maya, katanya Mas Ridwan ini serba bisa ya? Bisa tolongin perbaiki keran dan pompa air di rumah saya nggak, Mas? Dari kemarin nyala-mati terus, pusing saya cucian numpuk."
Ridwan diam terpaku. Otaknya yang masih dipenuhi rasa lapar dan kebingungan belum memproses rentetan kalimat Laras dengan sempurna. Ia takut berbuat salah lagi. Ia takut masuk ke rumah wanita bersuami.
Melihat keraguan yang tercetak jelas di wajah Ridwan, Laras—dengan insting keibuannya yang tajam—bisa menebak sesuatu. Ia melihat bagaimana sesekali pemuda itu memegangi perutnya yang tertutup kaos putih usang.
"Nggak usah takut, Mas. Nanti saya belikan sarapan bubur ayam atau lontong sayur deh yang enak. Uang lelahnya juga pasti ada," bujuk Laras dengan nada setengah menggoda, namun tetap sopan.
Kata sarapan seakan menjadi mantra ajaib. Ridwan menelan ludah. Niat baik untuk menolong, ditambah desakan perut yang tak bisa kompromi dan jalan keluar agar tidak perlu ke warung Nayla, membuat pertahanan Ridwan runtuh seketika.
"B-baik, Bu Laras. Insyaallah saya bantu sebisa saya. Saya ambil peralatan dulu di pos," ucap Ridwan akhirnya.
"Nah, gitu dong! Saya tunggu di mobil ya, Mas."
Beberapa menit kemudian, Ridwan sudah duduk dengan kaku di kursi penumpang sebuah mobil Honda Jazz berwarna merah mengkilap. Ini adalah kali pertama seumur hidupnya Ridwan menaiki mobil pribadi yang begitu bagus. Udara dingin dari pendingin ruangan (AC) mobil terasa menyejukkan, namun di saat yang sama, membuatnya merinding.
Di kursi kemudi, Laras mengemudikan mobil dengan lincah. Kompleks Margahayu memang sangat luas dan sebagian besar jalannya dibuat satu arah karena tidak terlalu lebar, mengharuskan mereka memutar agak jauh untuk sampai ke rumah Laras yang berada di ujung blok.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, keheningan meraja. Ridwan hanya menatap lurus ke depan, kedua tangannya yang kasar memeluk erat kotak peralatan di atas pangkuannya, seolah kotak itu adalah perisai pelindungnya.
Di lain sisi, Laras diam-diam memperhatikan pemuda di sebelahnya dari sudut matanya. Benar kata Mbak Maya, batin Laras. Pemuda ini memang gagah. Laras bisa melihat garis rahang Ridwan yang tegas, hidungnya yang mancung, dan bahunya yang sangat lebar hingga kursi mobil itu terasa sempit baginya. Wajahnya lumayan tampan, jenis ketampanan lokal yang eksotis dan murni. Namun sayang, keluguannya terlalu kental. Pemuda ini terlihat seperti harimau yang tidak menyadari taringnya sendiri.
"Udah lama kerja sama Mbak Maya, Mas?" Laras memecah keheningan. "Baru seminggu, Bu," jawab Ridwan singkat, suaranya yang bariton terdengar menggetarkan ruang sempit itu. Laras tersenyum kecil. "Nggak usah panggil Bu dong. Panggil Mbak Laras aja. Umurku baru dua puluh tujuh, belum tua-tua amat kan?" "Baik... Mbak Laras."
Mobil akhirnya berbelok masuk ke pelataran sebuah rumah bergaya minimalis modern yang cukup mewah. Pagar kayunya tinggi, dan halamannya tertata sangat rapi.
Ridwan turun dari mobil, langsung berjalan menuju ke arah belakang rumah sesuai arahan Laras. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Wajahnya memucat.
"Astaghfirullah!" gumam Ridwan pelan. "Kenapa, Mas?" Laras yang baru mengunci mobil ikut terkejut. "Mbak... saya lupa belum minta izin kepada Nyonya Maya kalau saya meninggalkan pos penjagaan. Bagaimana ini? Saya takut beliau marah dan memecat saya." Rasa panik benar-benar tergambar di wajah polos itu.
Melihat kepanikan Ridwan, Laras justru tertawa kecil. Tawa yang renyah dan menenangkan. "Ya ampun, Mas Ridwan. Tenang aja. Sebelum saya jalan ke pos tadi, saya udah telepon Mbak Maya kok. Udah izin mau pinjem tenaga penjaga kosnya yang andal ini. Mbak Maya udah ngasih izin."
Ridwan menghela napas panjang, seketika beban berat terangkat dari pundaknya. "Alhamdulillah... Syukurlah kalau begitu, Mbak."
"Yaudah, kerannya ada di halaman belakang, dekat gazebo. Mas Ridwan cek dulu aja ya. Saya mau nganter anak saya ke PAUD depan kompleks sebentar, sekalian beli sarapan buat kita. Suami saya lagi dinas ke luar kota, jadi pagi ini lumayan repot. Nggak apa-apa kan ditinggal sebentar?"
"Tidak apa-apa, Mbak. Silakan," angguk Ridwan.
Setelah Laras pergi, Ridwan melangkah menuju ke halaman belakang. Matanya membulat takjub. Halaman belakang rumah itu didesain dengan sangat indah. Ada kolam ikan koi kecil, rumput hijau yang dipangkas rapi, dan sebuah gazebo kayu jati yang terlihat sangat nyaman. Di sudut dekat dinding pembatas, terdapat instalasi pompa air dan sederet keran cuci.
Ridwan berjongkok dan mulai memeriksa. Keningnya berkerut. Ini adalah mesin pompa otomatis dengan instalasi modern yang belum pernah ia temui di desanya. Berbeda jauh dengan pompa manual atau sanyo tua yang biasa ia tangani. Namun, karena ia sudah telanjur mengiyakan, Ridwan mengerahkan seluruh tenaga dan logikanya. Ia membuka kotak peralatannya, mulai memutar baut dan mengecek tekanan pipa satu per satu.
Setengah jam berlalu. Matahari semakin meninggi.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah ruang tengah. Laras telah kembali, membawa dua bungkus plastik berisi sarapan. Saat Laras melangkah ke teras belakang, langkahnya terhenti.
Ridwan sedang berusaha melepaskan sebuah pipa sambungan yang tampaknya tersumbat. Karena tidak tahu bahwa sisa tekanan air di dalam tabung masih sangat tinggi, saat baut terakhir dilonggarkan, tekanan itu meledak.
Byuuur!!
Semburan air menyembur deras, menghantam langsung ke dada dan wajah Ridwan. Pemuda itu terkejut, terbatuk pelan, dan buru-buru menutup keran utama untuk menghentikan semburan.
"Mas Ridwan! Ya ampun, nggak apa-apa?" pekik Laras, meletakkan bungkusan makanannya di meja teras dan berlari kecil menghampiri.
Ridwan mengusap wajahnya yang basah kuyup, tersenyum kikuk menahan malu. "Tidak apa-apa, Mbak. Cuma kaget sedikit, ternyata tekanan airnya masih ada."
Laras berniat memberikan tisu, namun gerakannya membeku di udara. Matanya terkunci pada sosok di depannya.
Kaos oblong putih yang dikenakan Ridwan kini basah kuyup sepenuhnya. Kain tipis itu menempel dengan sangat ketat pada tubuh sang pemuda, berubah menjadi transparan. Di bawah sinar matahari pagi, Laras bisa melihat dengan sangat jelas pahatan otot dada Ridwan yang bidang dan kokoh. Otot perutnya yang berpetak tercetak sempurna menembus kain basah itu, bergerak naik turun seiring napas Ridwan yang sedikit terengah. Air menetes dari rambut hitamnya, melewati rahang tegasnya, dan jatuh ke lehernya yang berurat.
Itu adalah pemandangan maskulinitas yang murni, kasar, dan tak tertandingi. Sesuatu yang sangat kontras dengan sosok suaminya yang memiliki perut buncit dan kulit pucat karena terlalu banyak duduk di ruang ber-AC.
Darah Laras tiba-tiba berdesir hebat. Sebagai seorang ibu muda dengan suami yang jarang pulang sibuk mendampingi Pejabat Daerah dan sering kali melupakan kewajibannya di ranjang pemandangan ini adalah sebuah godaan yang teramat fatal.
Laras mundur selangkah, menelan ludah dengan susah payah. Tanpa sadar, pikirannya melayang, ditarik oleh bisikan setan ke dalam lembah fantasi yang panas.
Ia menatap gazebo kosong di sudut taman. Dalam lamunan liarnya, ia membayangkan tubuh tegap berkaos basah itu perlahan berjalan mendekatinya. Ia membayangkan lengan berotot Ridwan itu merengkuh pinggangnya, mengangkat tubuhnya dengan mudah dan membaringkannya di atas lantai kayu gazebo. Laras membayangkan bagaimana kasarnya sentuhan tangan pemuda desa itu di kulitnya yang halus, memberikannya keperkasaan dan dominasi mutlak yang tak pernah ia dapatkan. Ia membayangkan desahannya sendiri menggema di sudut taman ini, disaksikan oleh gemercik air kolam ikan.
Napas Laras mulai tak beraturan. Pahanya tanpa sadar merapat, merasakan kehangatan yang tiba-tiba berdenyut di pusat kewanitaannya. Wajahnya merona merah.
"Mbak Laras...?"
Suara berat Ridwan menghancurkan lamunan kotor itu dalam seketika. Laras tersentak, mengerjap beberapa kali, kembali ke alam sadar dengan jantung yang berdegup gila-gilaan.
"E-eh... iya, Mas? Kenapa?" jawab Laras gugup, berusaha menyembunyikan tangannya yang tiba-tiba gemetar.
Ridwan, yang sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja berkecamuk di kepala wanita itu, menunjuk ke arah instalasi mesin. "Sepertinya ada yang harus diganti, Mbak. Karet seal-nya sudah hancur, dan sepertinya ada masalah di bagian penyaringnya. Apakah Mbak Laras punya suku cadang sisanya? Biasanya saat beli baru, ada cadangan di dalam dusnya."
Laras berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. "Oh, iya. Waktu itu suami saya yang beli. Coba Mas Ridwan cari di gudang kecil sebelah dapur itu. Siapa tahu masih ada sisa alat atau dusnya di sana."
"Baik, Mbak. Saya cari dulu."
Ridwan melangkah ke arah gudang. Begitu pemuda itu hilang dari pandangan, Laras langsung memegangi dadanya, menghembuskan napas panjang. Ya Tuhan, Laras... sadar! Dia cuma penjaga kos, batinnya merutuki diri sendiri, meski tubuhnya tak bisa berbohong bahwa ia menginginkan lebih.
Di dalam gudang yang sedikit berdebu, Ridwan mencari dengan teliti. Tak butuh waktu lama, ia menemukan sebuah dus bekas pompa air. Di dalamnya terdapat karet seal cadangan yang ia butuhkan. Namun, matanya juga menangkap sebuah tabung filter air yang teronggok di sudut. Ridwan mengambilnya dan memeriksanya.
Pantas saja airnya sering mati dan pompanya tersendat, pikir Ridwan. Filter airnya sudah sangat kotor, penuh dengan endapan lumpur, membuat tarikan mesin menjadi sangat berat.
Ridwan kembali ke belakang. Dengan cekatan dan tenaga yang ekstra, ia mulai mengganti karet seal yang bocor, membersihkan tabung, dan memasang kembali filter air yang baru. Tubuhnya semakin basah oleh keringat yang bercampur dengan sisa air semburan tadi. Namun fokusnya tak terpecah. Ia bekerja dalam diam, membuktikan bahwa meski ia pemuda desa yang lugu, ia sangat bisa diandalkan.
Tidak lebih dari satu jam, semua pekerjaan selesai. Ridwan menyalakan sakelar.
Wusss... Air mengalir dengan sangat deras, jernih, dan lancar dari keran cuci. Suara mesin pompa pun terdengar lebih halus, tidak lagi menggeram seperti sebelumnya.
"Alhamdulillah," gumam Ridwan mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya.
Laras, yang sedari tadi duduk di gazebo sambil terus mencuri pandang, berdiri dengan wajah berseri-seri. "Wah! Hebat banget, Mas Ridwan! Kemarin tukang langganan kompleks aja nyerah katanya harus beli mesin baru. Ternyata di tangan Mas Ridwan langsung beres!"
Ada rasa bangga yang menyelinap di dada Ridwan mendengar pujian tulus itu. "Hanya kebetulan filternya kotor, Mbak. Mesinnya masih sangat bagus."
"Yaudah, sini. Cuci tangan dulu, terus kita sarapan di gazebo. Buburnya keburu dingin nanti," ajak Laras, melambaikan tangan.
Ridwan membilas tangannya dengan sabun, mengeringkannya dengan handuk kecil yang ia bawa dari pos, lalu melangkah canggung menuju gazebo. Ia duduk di seberang Laras, menjaga jarak sejauh mungkin agar kesopanannya tetap terjaga.
Di atas meja kayu jati yang rendah, Laras telah menyiapkan semangkuk bubur ayam yang masih mengepul dan segelas teh manis hangat.
"Ayo dimakan, Mas. Jangan sungkan," Laras menyodorkan mangkuknya.
"Terima kasih banyak, Mbak Laras. Mohon maaf merepotkan." Dengan membaca basmalah, Ridwan mulai menyendok buburnya. Rasa hangat dan gurih langsung memenuhi mulutnya, perlahan mengusir hawa dingin dari pakaiannya yang basah. Ia makan dengan lahap, namun tetap tidak bersuara, menunjukkan adab makan yang sangat baik.
Laras memakan sarapannya perlahan sambil tak henti menatap Ridwan. Kesunyian yang nyaman menyelimuti mereka berdua, diiringi suara gemercik kolam koi.
Setelah setengah mangkuk buburnya habis, Laras meletakkan sendoknya. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Ridwan dengan raut wajah yang lebih serius namun tetap lembut.
"Mbak Maya cerita ke saya, katanya Mas Ridwan jauh-jauh dari desa datang ke Margahayu buat nyari ibu kandung ya?" tanya Laras pelan, membuka percakapan yang lebih dalam.
Gerakan tangan Ridwan terhenti. Ia meletakkan sendoknya, menunduk menatap sisa bubur di mangkuknya. Rasa sedih kembali menyergap hatinya.
"Iya, Mbak. Betul."
"Memangnya Mas Ridwan bawa alamat lengkap atau nama jelas ibunya? Kalau ada, mungkin saya bisa bantu," tawar Laras dengan sungguh-sungguh. "Suami saya itu asisten Pejabat Daerah di kota ini. Dia punya akses ke data kependudukan seluruh warga Bekasi. Kalau Mas kasih tahu nama lengkapnya, mungkin suami saya bisa suruh orang kelurahan buat ngecek. Biar cepat ketemu."
Mendengar tawaran yang begitu besar dan menjanjikan itu, bukannya senang, Ridwan justru terlihat semakin kebingungan dan malu. Wajahnya memerah karena rasa tidak berdaya.
"S-saya..." Ridwan menghela napas berat, suaranya terdengar bergetar. "Saya tidak tahu nama panjang Ibu, Mbak. Di surat tua milik almarhum Bapak, ujungnya sudah robek, hanya tertulis nama depan 'Siti' dan alamat kelurahan ini puluhan tahun yang lalu. Saya tidak punya fotonya, saya tidak tahu seperti apa wajahnya. Saya bahkan tidak ingat bagaimana suaranya, karena Bapak membawa saya pergi saat saya masih sangat kecil."
Ridwan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Saya merasa sangat bodoh, Mbak. Datang ke kota besar hanya bermodalkan doa dan tenaga, mencari seseorang yang mungkin sudah tidak ada atau sudah lupa pada saya."
Melihat kerapuhan di balik tubuh tegap pemuda itu, hati Laras mencelos. Rasa iba yang sangat dalam menggantikan fantasi liarnya tadi. Laras menggeser duduknya sedikit lebih dekat, tak sadar jarak di antara mereka menyempit.
"Hei, jangan ngomong gitu, Mas," suara Laras melembut, mengalun penuh empati. Ia mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh pelan ujung lengan baju Ridwan yang basah. Sebuah sentuhan penghiburan. "Niat mencari orang tua itu sangat mulia. Tuhan pasti mencatat setiap langkah kakimu."
Laras tersenyum sendu, pandangannya menerawang ke arah air kolam yang beriak. "Saya ngerti rasanya kehilangan, Mas. Kedua orang tua saya juga sudah meninggal cukup lama karena kecelakaan waktu saya masih kuliah. Rasanya dunia runtuh. Dan walau sekarang saya punya rumah bagus, mobil, suami yang jabatannya lumayan... tetap aja rasanya ada yang kosong di hati ini kalau ingat mereka."
Mendengar curahan hati itu, Ridwan perlahan mengangkat wajahnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia menatap langsung ke arah Laras.
Saat itulah, ujian yang sebenarnya datang menghantam akal sehat Ridwan.
Dari jarak sedekat ini, pesona keibuan dan kematangan Laras terpancar begitu kuat. Kulit putih Laras terlihat begitu halus dan bersih terawat. Daster bunga-bunga berbahan rayon yang ia kenakan jatuh membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Karena posisi Laras yang sedikit mencondongkan tubuh ke depan saat bercerita, belahan kerah dasternya sedikit merenggang, memperlihatkan sekilas kulit dadanya yang mulus dan cerah. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati dari tubuh Laras, menyusup masuk ke rongga hidung Ridwan, memabukkan pikirannya.
Sebagai laki-laki yang darahnya masih panas, Ridwan menelan ludah dengan susah payah. Matanya tak sengaja terpaku sesaat pada pemandangan indah di baliknya. Kejantanannya, yang sejak subuh sudah tertidur, kini memberikan kedutan pelan sebagai respons alami tubuhnya terhadap wanita cantik di hadapannya.
Astagfirullahaladzim...
Ridwan memalingkan wajahnya dengan cepat. Napasnya sedikit memburu. Berada berduaan dengan seorang ibu muda beranak satu di pagi hari yang cerah di sebuah gazebo belakang rumah... ini benar-benar ujian yang sangat berat baginya. Setan terus berbisik, memanas-manasi keadaan, menyuruhnya untuk sedikit saja membalas tatapan lembut Laras, menyuruhnya untuk meraih tangan wanita itu.
Namun, Ridwan adalah pemuda yang menjaga akalnya. Ia harus segera memutus rantai godaan ini sebelum semuanya terlambat.
Ridwan buru-buru menghabiskan sisa teh hangatnya dalam sekali teguk, lalu segera berdiri.
"Alhamdulillah... terima kasih banyak atas sarapannya, Mbak Laras," ucap Ridwan dengan nada tegas, sengaja menciptakan jarak. "Mbak Laras adalah wanita yang kuat. Saya doakan orang tua Mbak Laras tenang di sisi-Nya. Karena pekerjaan saya sudah selesai, saya harus segera pamit kembali ke kos. Takutnya ada penghuni yang butuh bantuan."
Laras sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ridwan yang tiba-tiba terburu-buru. Ia ikut berdiri, menutupi dadanya dengan kardigannya secara naluriah. "Eh, tunggu bentar, Mas."
Laras merogoh saku kardigannya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang sudah ia siapkan. "Ini... untuk ongkos kerjanya. Diterima ya."
Mata Ridwan membulat melihat jumlah uang itu. "Astagfirullah, Mbak. Ini terlalu banyak. Saya hanya mengganti seal dan membersihkan tabung. Sepuluh ribu saja cukup, tadi juga sudah dibelikan sarapan mahal."
Ridwan mengatupkan kedua tangannya, menolak dengan halus. Namun Laras tidak mau kalah. Ia melangkah maju, meraih tangan kanan Ridwan secara paksa, dan menyelipkan uang itu ke dalam genggaman kasarnya.
Sentuhan kulit yang tak disengaja itu membuat keduanya tersengat. Ridwan merasakan kelembutan tangan Laras, sementara Laras merasakan panasnya suhu tubuh pemuda itu.
"Ini rezeki, Mas. Jangan ditolak. Hitung-hitung buat tabungan nyari ibunya," ucap Laras dengan nada memaksa yang lembut, matanya menatap tajam ke mata Ridwan. "Udah, simpan aja."
Ridwan tak berkutik. Jantungnya berdebar kencang akibat sentuhan itu. "B-baik... Terima kasih banyak, Mbak Laras. Semoga Allah melipatgandakan rezeki Mbak dan keluarga."
"Amin. Yaudah, ayo saya antar balik ke kos. Sekalian saya juga udah harus jemput anak saya di PAUD," kata Laras sambil meraih kunci mobilnya di atas meja.
Perjalanan kembali ke pos kosan VIP terasa lebih singkat, namun udaranya terasa jauh lebih hangat. Laras menyalakan radio dengan volume kecil, memainkan lagu nostalgia yang mengalun syahdu.
Sesampainya di depan gerbang, Ridwan turun dari mobil. Ia menunduk sopan dari luar kaca jendela yang diturunkan. "Terima kasih banyak tumpangannya, Mbak Laras."
"Sama-sama, Mas Ridwan. Kalau ada apa-apa, atau butuh bantuan soal nyari ibunya, jangan sungkan main ke rumah ya," Laras mengedipkan sebelah matanya dengan gaya bersahabat, namun ada kilatan sensual yang terselip di sana.
Mobil Honda Jazz merah itu melaju menjauh, meninggalkan Ridwan yang berdiri mematung di depan gerbang.
Pemuda itu merogoh saku celananya, merasakan lembaran uang yang tebal di sana. Perasaannya campur aduk. Margahayu adalah sebuah permukiman yang aneh baginya. Terlalu luas, terlalu banyak misteri, dan terlalu banyak godaan yang mengancam keimanannya. Dari Mbak Maya, Nayla, dan kini Mbak Laras semuanya adalah ujian.
Namun di hari itu, melihat bagaimana kepedulian yang ditunjukkan oleh Laras, Ridwan semakin menyadari satu hal. Di balik segala godaan setan yang terus mengintainya dari setiap sudut kota ini, ternyata banyak orang yang diam-diam peduli kepadanya. Dan kenyataan itu memberikan sepercik harapan di hatinya yang sepi, bahwa ia tidak benar-benar sendirian di kota ini.
Ridwan menghela napas panjang, merapikan letak kerahnya, lalu berbalik masuk untuk melanjutkan sisa tugasnya, bersiap menghadapi apa pun yang akan disajikan oleh hari-hari berikutnya di Margahayu.
ns216.73.216.75da2

will be deducted